Cegah Komplikasi Diabetes dan Hipertensi, Ini Tips Pengelolaan Penyakit Kronis Sejak Dini

Angga Purenda • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Peserta Prolanis dari PMI Klaten yang melakukan kegiatan senam bersama di Taman Lampion, Kecamatan Klaten Utara, (15/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Peserta Prolanis dari PMI Klaten yang melakukan kegiatan senam bersama di Taman Lampion, Kecamatan Klaten Utara, (15/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia (lansia).

Gaya hidup modern, tingkat stres hingga faktor genetik membuat penyakit degeneratif ini mulai mengintai usia muda, bahkan di rentang 20 hingga 30 tahun.

Guna mencegah terjadinya komplikasi parah menjadi perhatian serius saat ini sudah ada Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

Meski begitu, masyarakat yang memiliki riwayat maupun risiko penyakit degeneratif didorong untuk konsisten menjaga pola hidup dan rutin mengontrol kondisi fisik.

Baca Juga: Ternyata Isi Piring Bisa Ikut Mengatur Mood, Kok Bisa?

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Klinik PMI Klaten dr. Erlina Puspitasari ditemui di Taman Lampion, Kecamatan Klaten Utara saat program Prolanis bersama BPJS Kesehatan Cabang Boyolali.

Erlina menjelaskan, pencegahan komplikasi pada pasien diabetes dan hipertensi bertumpu pada kedisiplinan pengobatan.

Termasuk pemantauan medis secara berkala untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

"Pengobatan dan kontrol rutin itu penting. Jika tidak minum obat secara teratur, kadar gula darah maupun tekanan darah tidak akan stabil. Bisa melonjak tinggi atau justru ngedrop, yang memicu komplikasi fatal seperti gangguan ginjal hingga penyakit jantung," ujar Erlina.

Seperti di Klinik PMI Klaten, peserta Prolanis mendapatkan layanan pengelolaan kesehatan yang komprehensif.

Pasien diabetes mendapatkan fasilitas pemeriksaan laboratorium rutin setiap bulan.

Sedangkan pasien hipertensi menjalani cek lab komplit setiap enam bulan sekali.

Mencakup evaluasi profil kolesterol hingga fungsi ginjal. Hal yang sama diharapkan dilakukan bagi mereka yang memiliki riwayat maupun Risiko penyakit tersebut.

“Selain pengobatan dan pemeriksaan fisik harian, aktivitas fisik terukur juga disiapkan melalui agenda rutin Gerak Sehat Prolanis. Ditambah setiap sesi senam diawali dan diakhiri dengan pemantauan tekanan darah,” ujar Erlina.

Dirinya pun berharap masyarakat aktif dalam prolanis sehingga akan diperkaya pengetahuannya saat sesi edukasi kesehatan langsung oleh dokter.

Terlebih lagi pemantauan kondisi pasien saat ini juga semakin mudah melalui layanan konsultasi online.

Baca Juga: Habis Makan Jangan Langsung Rebahan, Jalan 10 Menit Ternyata Ada Manfaatnya

Guna menjaga kualitas hidup para lansia maupun pasien usia muda yang tergabung dalam prolanis, Erlina menekankan dua hal utama.

Yakni terkait pengaturan diet dan deteksi dini skrining kesehatan.

“Diet bagi penderita penyakit kronis bukan bertujuan menurunkan berat badan secara drastis. Melainkan mengontrol stabilitas asupan. Mulai dari pembatasan asupan gula, garam dan lemak. Ini menjadi syarat mutlak untuk mencegah melonjaknya kolesterol dan tekanan darah,” tegasnya.

Selain itu, kesadaram untuk melakukan deteksi dini perlu dibangun sehingga tidak perlu menunggu hingga memasuki usia senja.

Masyarakat diimbau memanfaatkan program skrining kesehatan BPJS Kesehatan untuk memetakan potensi risiko sejak dini.

“Jika hasil skrining menunjukkan potensi hipertensi atau diabetes, konsultasi dan penanganan medis harus segera dilakukan,” tambahnya.

Diakuinya, faktor genetik dari keluarga memang berpengaruh. Tetapi bisa menerapkan gaya hidup sehat seperti menjadi indeks massa tubuh, menghindari rokok dan alkohol serta cukup tidur.

“Melalui gaya hidup sehat, setidaknya bisa mencegah munculnya penyakit, meskipun ada riwayat keturunan,” pungkasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
diabetes komplikasi penyakit kronis hipertensi