PERJALANAN menanjak dengan menyusuri perkampungan di Desa Kendalsari, Kecamatan Kemalang dari rumahnya di Desa Bumiharjo kini harus dilahap Murtini, 43, setiap harinya demi mengajar anak didinya.
Seperti yang dilakukannya Senin lalu (10/8). Berangkat dari rumah pukul 06.00, dia naik sepeda motor mengunjungi rumah siswanya yang berada ke Dusun Kaligentong. Daerah yang paling ujung dari desa tersebut berbatasan dengan Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang.
Tiba di daerah itu, langsung disambut dengan hawa yang dingin karena lokasinya memang berada di lereng Merapi. Kondisi itu tidak menyurutkan Murtini untuk mengajar, meski statusnya hanya guru honorer.
Murtini sehari-hari mengajar kelas I di SDN 1 Kendalsari, tetapi mendapatkan tugas tambahan untuk mengampu kelas IV juga. Mengingat, ada guru yang sedang cuti hamil sehingga tugasnya diserahkan kepada dia. Total untuk dua kelas itu terdapat 60 siswa yang menjadi tanggung jawabnya.
“Sebenarnya sejak awal tahun ajaran baru saya merasa anak-anak seperti jenuh dengan kegiatan belajar online. Makanya, saya mendatangi ke rumah atas seizin sekolah dan korwil. Sudah berjalan tiga minggu ini mengajar dari rumah ke rumah setiap hari,” ucap Murtini di sela-sela memberikan tugas kepada siswanya mengenai mata pelajaran matematika.
Murtini merasa kegiatan belajar secara online tidak begitu efektif karena siswanya justru lebih banyak bermain hingga ikut orangtua ke pasar. Apalagi tugas yang diberikan melalui aplikasi belum tentu seluruh siswanya mengumpulkan. Mengingat handphone yang digunakan tidak dipegang langsung oleh siswa.
Dia juga merasa kasihan dengan siswanya yang masih duduk di kelas I yang belum mengerti huruf maupun kosakata. Tentunya pembelajaran daring akan menyusahkan siswa, sehingga dirinya tergerak untuk mengajari langsung. Apalagi jika ada siswa kesusahan dalam mengerjakan tugas bisa langsung bertanya dan dibahas dalam pembelajaran itu.
“Setiap hari ada dua sesi dengan setiap kelompoknya maksimal enam siswa yang tinggalnya saling berdekatan. Sesi pertama pukul 08.00-pukul 10.00 dan kedua pukul 10.00-pukul 12.00,” ucap Murtini yang sudah mengabdi menjadi guru honorer selama 13 tahun lamanya.
Diakui, sinyal di lereng Merapi juga menjadi kendala tersendiri bagi siswa dalam mengakses internet. Hal ini yang membuat Murtini memantapkan diri dengan mengajar dari rumah ke rumah dari Senin-Jumat. Dari awalnya dari rumah ke sekolah hanya menempuh sekitar 2 kilometer (km), kini menjadi 5 km karena mengunjungi rumah siswanya dengan jarak lebih jauh.
Keputusannya untuk mengajar dari rumah ke rumah diakui menimbulkan pro-kontra, tetapi tidak membuat patah arang. Apalagi dia melakukan secara ikhlas meskipun honor yang diterima setiap bulannya jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Tetapi dukungan dari para orangtua siswa terus memompa semangatnya mengajar di tengah pandemi Covid-19.
“Saya melihat siswa dan orangtua begitu senang karena mengikuti apa yang menjadi harapan mereka selama ini. Meskipun pembelajaran secara kelompok terbatas hanya dilakukan setiap seminggu sekali saja untuk per kelompoknya,” ucap Murtini.
Murtini terus meneguhkan diri untuk terus semangat memberikan pengajaran siswanya secara maksimal. Sekalipun statusnya hanya seorang guru honorer, tetapi dirinya yakin soal rezeki sudah ada yang mengaturnya. Dirinya hanya menginginkan agar semangat anak-anak untuk belajar tidak hilang, karena sudah lebih dari empat bulan tidak bersekolah. (ren/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra