Salah seorang pemilik warung apung, Sutomo, 49 mengungkapkan, pembongkaran dua warung apung itu dikarenakan sudah tidak produktif lagi. Alias sudah tidak beroperasional dengan kerusakan di beberapa bagian. Sehingga pemiliknya memilih untuk menjual material warung apung itu ke pengepul rosok.
”Untuk dua warung apung yang dibongkar itu bernama Nila Sari dan Kembar dibongkar itu lebih pada tidak produktif lagi. Apalagi mengalami kerusakan hingga hampir tenggelam. Seperti drum untuk membuat warungnya terapung sudah bocor,” ucap Sutomo, Rabu (1/9).
Sutomo menjelaskan, pembongkaran kedua warung apung itu sudah dilakukan sejak satu minggu yang lalu. Ada pun material warung apung yang dibongkar itu didominasi berupa bambu. Begitu juga warung apung lainnya yang masih beroperasi juga menggunakan material bambu.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo, untuk warung apung Kembar belum seluruh material bangunannya diangkat ke daratan. Tampak seorang warga sedang memilah material di antara bangunan warung apung yang dibongkar. Sedangkan untuk material warung apung Nila Sari sudah diangkat secara keseluruhan.
”Dari pada tenggelam dan ada pengepul rosok yang menawar sehingga dikasihkan oleh pemiliknya. Kondisi warung apung sendiri juga sudah ada yang roboh ketika terkena tiupan angin. Maka itu memilih untuk dibongkar,” ucapnya.
Sementara itu, di tengah penerapan PPKM level 3, sejumlah warung apung tetap beroperasi meski pengunjung minim. Sambil menunggu kelanjutan dari rencana revitasilasi Rowo Jombor tersebut. Saat ini untuk jumlah warung apung dan pemancingan yang beroperasi sekitar 30 warung.
Senada diungkapkan Sadikan, 68 mengungkapkan pembongkaran dua warung apung itu karena tidak laku. Ditambah di beberapa bagian warung apung sudah mengalami kerusakan.
”Pembongkaran ini tidak ada kaitannya dengan revitalisasi Rowo Jombor. Saya kira karena tidak dirawat sudah pasti rusak,” ucapnya.
Dia mengaku, sejak Klaten mengalami penurunan level mulai ada geliat kembali untuk pengunjung datang ke warung apungnya. Meski terbilang masih minim tetapi warung apungnya tetap dioperasionalkan.
Sementara itu, salah satu warga setempat yang ditemui di sekitar warung apung Kembar, Gondrong, 58, mengungkapkan pembongkaran dilakukan lebih karena sudah tidak ada yang merawat. Apalagi mengalami kerusakan di beberapa bagiannya.
”Tidak ada dirawat sehingga terlanju rusak. Apalagi sudah tidak ada yang menunggu. Kalau diperbaiki juga biayanya tinggi. Maka itu materialnya dijual saja,” ucapnya singkat.(ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram