”Umat Hindu bisa memberikan masukan ke PPK jalan Tol Solo-Jogja. Tetapi sampai saat ini belum melakukan komunikasi dengan kami. Tapi pada prinsipnya kami dari dinas siap untuk memfasilitasi,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbudpora Klaten, Yuli Budi Susilowati, Selasa (28/9).
Lebih lanjut, perempuan yang akrab dipanggil Susi itu mendorong umat Hindu untuk segera melakukan komunikasi dengan pihak PPK Jalan Tol Solo-Jogja. Terutama terkait usulan agar di bagian atas yoni tidak tertutup bangunan dari proyek strategis nasional (PSN). Mengingat pengerjaan fisik belum terlalu jauh.
”Saya harapkan semoga ada solusi terbaiknya bagaimana. Kami siap memfasilitasi untuk membicarakan terkait ini kepada pengerja proyek. Bisa juga langsung berkomunikasi dengan pihak tol,” ucapnya.
Dia mengungkapkan, situs yang langsung dilintasi Jalan Tol Solo-Jogja tidak hanya yoni di Desa Keprabon. Tetapi juga situs di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan berupa lokasi penemuan emas dan perak belasan kilogram pada 1990-an. Mengingat temuan artefak telah disimpan di Museum Nasional Jakarta.
”Tetapi lokasi penemuan itu disebut situs. Maka itu nantinya juga dilakukan rekayasa dalam pembangunan struktur jalan tol ketika melintasinya. Bisa dinaikan maupun digeser, sampai terakhir kemarin, kami belum dapat kabar lagi. Tapi pada prinsipnya pihak pengerja tol tetap untuk menyelamatkan,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Polanharjo Saryono berharap ada upaya yang sama dari pemerintah untuk menyelamatkan keberadaan yoni tersebut meski nantinya dilintasi Jalan Tol Solo-Jogja.
”Kalau kami dari Umat Hindu berharap agar pemerintah juga ikut terlibat dalam menjaga cagar budaya ini. Saya harapkan untuk yoni tetap berada di posisinya saat ini. Mengingat itu menjadi tempat pemujaan bagi Umat Hindu,” ucapnya.
Umat Hindu di Klaten juga sempat mengusulkan agar Jalan Tol Solo-Jogja bisa melewati samping yoni sehingga tidak di atasnya. Mengingat ketika Umat Hindu melakukan persembahyangan di atasnya selalu langsung ke langit.
”Bagi umat Hindu kita menyebutnya itu sebagai kawasan Candi Siwa. Sampai saat ini kita masih rutin persembahyangan setiap kali Hari Raya Umat Hindu,” ucapnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram