Bangunan induk Masjid Agung Kajoran, berukuran 10,5 x 10,15 meter. Memiliki 16 pilar penyangga yang terbuat dari kayu jati. Tak hanya di bagian luar, interior di dalam masjid juga masih terjaga keasliannya. Salah satunya mimbar yang terbuat dari bahan kayu jati. Sisi kanan dan kirinya diukir motif binatang. Paling menonjol motif gajah.
Mimbar yang sering digunakan untuk kutbah salat Jumat tersebut lebarnya 1 meter, panjang 1,5 meter, dan tinggi 2,2 meter. Mimbar tersebut diyakini berasal dari Demak, pemberian Sunan Kalijaga. Didatangkan sebelum masjid selesai dibangun.
Pernah, pada 2009 mimbar tua tersebut ditawar Rp 1 miliar oleh seorang warga negara Belanda. Namun ditolak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan takmir masjid setempat. Karena termasuk benda cagar budaya (BCB) yang dilindungi pemerintah.
“Menurut cerita turun-temurun, masjid ini didirikan Pangeran Maulana Mas atau Panembahan Agung dari Kerajaan Pajang. Dulunya datang ke sini untuk belajar mengaji kepada ulama. Lama-kelamaan banyak yang datang untuk belajar mengaji,” terang Ketua Takmir Masjid Agung Kajoran Joko Ismanto, Rabu (6/4).
Ditanya sejarah parit di sekeliling masjid, Joko mengaku dulunya sering digunakan jamaah untuk membersihkan kaki. “Dulu di sini kawasan hutan. Jadi sebelum masuk masjid, cuci kaki dulu. Airnya dulu mengalir, tapi sekarang mampet. Lalu diisi ikan,” imbuhnya.
Sementara itu, pegiat cagar budaya asal Klaten Hari Wahyudi mengaku Masjid Agung Kajoran masih terjaga keaslinnya. “Masjid Agung Kajoran ini salah satu dari 92 masjid tua di Klaten. Dibangun Panembahan Agung yang kondisi bangunannya masih terjaga. Secara historis, stratanya lebih tinggi dibandingkan Masjid Majasem (Kecamatan Jogonalan),” urainya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram