Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Menelusuri Sejarah Angkringan di Desa Ngerangan, Bayat

Damianus Bram • Selasa, 3 Mei 2022 | 19:00 WIB
CIKAL BAKAL: Pengunjung mengamati dokumentasi dan peralatan angkringan di Museum Angkringan, Dusun Sawit, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
CIKAL BAKAL: Pengunjung mengamati dokumentasi dan peralatan angkringan di Museum Angkringan, Dusun Sawit, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Hidangan berupa nasi dengan lauk bandeng serta sambal dan dibungkus daun pisang, sudah akrab dengan masyarakat. Ya, nasi kucing. Menu khas itu menjadi andalan Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. Menjadi cikal bakal angkringan yang akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Menelusuri jalan di Desa Ngerangan akan dengan mudah menjumpai angkringan yang buka dari pagi hingga malam hari. Monumen angkringan pikul semakin mempertegas asal muasal angkringan dari desa setempat. Bahkan secara swadaya, masyarakat mendirikan Museum Angkringan.

Photo
Photo
Gapura desa sejarah Kampung Angkringan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Museum angkringan yang dirintis sejak 2021 terletak di Dusun Sawit dengan memanfaatkan rumah warga yang tak dihuni lantaran telah merantau.

Di tempat ini, pengunjung akan dibawa mengenal sejarah awal angkringan, dari terikan tumbu, angkringan pikul, hingga gerobak angkringan. Dilengkapi dengan anglo, ceret, serta perlengkapan masak lainnya.

Pada dinding ruangan terpajang tulisan yang menginformasikan asal-usul angkringan. Termasuk foto-foto tokoh sejarah angkringan, yakni Karso Djukut, Wono, dan Wiryo Je.

Dilengkapi daftar nama warga yang berjualan angkringan saat ini, sekaligus lokasi mereka berjualan. Peta sebaran angkringan di Kota Solo, Semarang, Jogja, dan Jakarta pin tersedia.

Ada pula daftar aneka merek teh yang sering digunakan warga Ngerangan membuat sajian minuman khas. Teh itu pula yang menjadi ciri khas angkringan.

Pada museum juga terdapat resep nasi kucing hingga wedang jahe. Daftar bahan-bahanya dan cara memasak ala warga Desa Ngerangan.

“Selama ini, yang berkunjung rata-rata dari kedinasan, mahasiswa, rombongan anak-anak, dan media. Meskipun museum angkringan ini masih sederhana, tapi mampu menarik minat pengunjung untuk datang,” ucap Sarono, 38, pengelola Museum Angkringan.

Photo
Photo
PENANDA: Monumen angkringan di Desa Ngerangan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Kenapa museum angkringan berada di Dusun Sawit? Sarono mengatakan, karena tokoh angkringan Karso Djukut berasal dari kampung setempat. Warga pun meneruskan jejaknya secara turun temurun. Hal itu membuat Dusun Sawit ditetapkan sebagai kampung sejarah angkringan.

“Banyak hal bisa dijumpai di Museum Angkringan ini. Mulai replika angkringan yang awalnya terikan tumbu, angkringan pikul, hingga gerobak angkringan. Isi dan tampilan dari museum terus kami tambah dan benahi agar lebih menarik. Museum Angkringan buka mulai pukul 08.00-16.00. Masuknya gratis,” urainya.

Kepala Urusan Keuangan Pemerintah Desa Ngerangan Muchsin Dwi Nugraha mengungkapkan, rencananya, tampilan Museum Angkringan dibuat lebih kekinian. Seperti bisa memutarkan video sejarah angkringan.

“Bagi wisatawan yang sudah datang ke desa kami, silakan menikmati berbagai menu angkringan. Apalagi setiap RT di desa kami pasti ada angkringan yang dibina oleh desa. Pengelolaanya dibawah PKK RT,” jelas dia.

Adapun sajian minuman khas angkringan, imbuh Muchsin, tersedia wedang jahe, teh poci, dan teh tubruk. Makanannya tentu saja nasi kucing, aneka sate dan gorengan, serta rambak. Harga dari berbagai menu itu cukup terjangkau. Mulai dari Rp 500 hingga Rp 3.500.

“Ada juga menu angkringan yang telah dimodifikasi. Seperti empon-empon, jamu, lalu susu ditambah jahe. Nasi bakar dan bakaran lainnya,” katanya.

Menurut Muchsin, pengembangan angkringan di desanya tidak hanya berhenti pada pembuatan monumen, museum, maupun pembinaan sekolah angkringan bagi warganya. Tapi juga bisa mengembangkan penjualan angkringan melalui aplikasi, sehingga bisa menjangkau konsumen lebih luas lagi. Harapannya tentu saja meningkatkan kesejahteraan warga. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Angkringan di Ngerangan #Museum Angkringan #Desa Ngerangan #Sejarah Angkringan di Desa Ngerangan #Monumen Angkringan #Sejarah Angkringan