Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kampung Pecel di Desa Ngerangan: Menu Ndeso yang Selalu Bikin Kangen

Damianus Bram • Selasa, 3 Mei 2022 | 20:00 WIB
TRADISIONAL: Sajian menu pecel gendar dan dawet lidah buaya di Kampung Pecel, Dusun Mojorejo, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
TRADISIONAL: Sajian menu pecel gendar dan dawet lidah buaya di Kampung Pecel, Dusun Mojorejo, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Berkunjung ke Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat belum lengkap ketika tak mampir ke Kampung Pecel. Terletak di Dusun Mojorejo, RT 12 RW 12. Selain aneka pecel, tersedia minuman spesialnya yakni dawet aloe vera atau lidah buaya. Makin nikmat disantap sambil duduk di gazebo di bawah pohon rindang khas.

Kampung Pecel sendiri dirintis warga setempat sejak 2019 setelah studi banding ke Gungkidul dan Sukoharjo. Dari situ mucul ide mengembangkan lidah buaya sebagai cendol untuk dawet khas Bayat. Termasuk pecel dengan memanfaatkan sayuran yang ditanam di lahan warga.

Secara bersamaan ada asesmen dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olaharaga dan Parwisata (Dsiporapar) terkait desa wisata. Hal itu membuat warga secara gotong royong membangun Kampung Pecel dengan memanfaatkan lahan milik warga seluas 2.000 meter persegi. Termasuk iuran dengan menerapkan sistem investasi hingga terkumpul modal awal Rp 3.600.000.

Kehadiran Kampung Pecel mendapat respons positif. Sebelum pandemi, jumlah pengunjung bisa mencapai 900 orang per hari. Banderol menu sangat terjangkau. Mulai Rp 3 ribu-Rp 5 ribu.

Beragam sayur di menu pecel dikombinasikan dengan tiwul sebagai pengganti nasi. Bisa pula memakai gendar yang teksturnya mirip lontong maupun ketupat, tetapi lebih kenyal dan memberikan citarasa gurih.

Pengunjung juga bisa menikmati pecel ditambah hewek. Sebuah makanan khas tradisional asal Gunungkidul yang terbuat dari beras ketan dan kacang tolo. Ditambah lauk pauk ayam goreng, lele goreng, telur goreng, dan gorengan.

Selain dawet lidah buaya, minuman khasnya ada wedang uwuh, teh, hingga kopi. Kampung pecel buka mulai Pukul 07.00-16.00 pada Sabtu dan Minggu.

“Untuk desa wisata kami beri nama Lereng Katresnan dengan unit usaha meliputi kuliner, edukasi, camping dan outbond. Untuk kuliner ya Kampung Pecel yang dikembangkan,” jelas Teguh, penggerak Kampung Pecel.

Meski hanya buka Sabtu dan Minggu, omzet Kampung Pecel pernah tembus Rp 8 juta per hari. Pendapatan itu digunakan untuk pengembangan sarana-prasrana dan bagi hasil kepada warga RT setempat yang telah menginvetasikan pada unit usaha tersebut.

Pengembangan paket wisata di Dusun Mojorejo meluas pada edukasi menanam lidah buaya hingga mengolahnya menjadi beragam produk. Mulai dari cendol, nata, pangsit, stik hingga dodol.

“Untuk camping dan outbond masih kami rintis. Beberapa kali ada yang outbond di tempat kami. Jika tidak menggunakan instruktur, kami hanya kenakan biaya kebersihan saja. Tapi kedepannya akan dilakukan penataan,” ucapnya.

Sementara itu, Surati, salah seorang pengelola Kampung Pecel mengungkapkan, dalam pengelolaan Kampung Pecel melibatkan PKK RT setempat.

“Ada warga yang juga menitipkan produknya di kampung pecel. Kehadirannya benar-benar mampu menggerakkan perekonomian kampung kami,” jelasnya.

Di tempat ini, pengunjung bisa membeli sambal kacang untuk oleh-oleh. Harganya Rp 50 ribu per kilogram, dan untuk kemasan 100 gram dibanderol Rp 5.000. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Angkringan di Ngerangan #Kampung Pecel #Desa Ngerangan #Sejarah Angkringan di Desa Ngerangan #Kampung Pecel di Desa Ngerangan