“Sekitar tiga bulan ini usaha kami mulai bangkit. Pemesanan kain batik mulai ramai. Termasuk kunjungan ke showroom,” kata Sarwidi, 50 pelaku UMKM batik di Desa Jarum, Sabtu (9/7).
Sarwidi mengaku sudah menggeluti usaha batik sejak 16 tahun silam. Berutung selama pandemi, usahanya mampu bertahan. Walaupun, tidak ada pesanan sama sekali.
“Tetap memberdayakan enam perajin batik saat pandemi kemarin. Sekarang karena mulai ramai, pekerja saya tambah jadi sembilan orang,” imbuh Sarwidi.
Tips bangkit dari hantaman pandemi, yakni menyesuaikan motif batik dengan selera pasar. Di antaranya motif batik salakan, wahyu tumurun, dan sebagainya.
“Saya pakai pewarna alami dari tumbuhan di sekitar rumah. Pakai kulit pohon mahoni, pohon mangga, dan jelawe. Kualitas pewarnaan terus kami tingkatkan,” ujarnya.
Sarwidi memroduksi kain batik ukuran 110x250 sentimeter (cm). Dalam sebulan, bisa mengantongi omzet bersih Rp 3,5 juta.
“Memang harus berani mengembangkan inovasi. Mulai dari motif hingga proses pewarnaan. Harus tetap berkarya sesuai kemampuan masing-masing,” bebernya.
Geliat batik pewarna alam di Desa Jarum, juga ditandai maraknya kunjungan ke showroom. Bulan ini, rencananya Sarwidi akan dikunjungi rombongan dari Temanggung, Jawa Tengah. Rombongan tersebut akan belajar pewarnaan batik. “Rencana ada juga rombongan dari Jepang,” bebernya.
Pelaku UMKM batik asal Kecamatan Kalikotes Yulia, 38, juga kebanjiran order. Dia juga mengaku berhasil bertahan dari hantaman pandemi.
“Fokus jualan saya di Klaten justru baju batik motif Pekalongan. Biasanya saya jualan sambil jemput bola. Kalau hanya menunggu pembeli datang ke toko, tidak bisa diandalkan. Ya harus aktif terjun cari pembeli,” katanya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram