“Untuk menyambut Hut Jadi ke-218 Klaten, kami mengadakan kegiatan seni dan budaya. Kaitannya potensi kesenian di Kecamatan Jatinom yakni Tari Gedruk. Jadi ada 50 penari utama yang diikuti 500 orang dari berbagai unsur,” ucap Camat Jatinom, Wahyuni Sri Rahayu.
Lebih lanjut, Rahayu menjelaskan, alasan mengangkat kesenian tari gedruk yang berkembang di setiap desa di Kecamatan Jatinom. Memiliki ciri khas yang setiap penarinya menggunakan kerincingan pada kedua kakinya. Hal itu menjadikan setiap gerakan menimbulkan suara sehingga menarik perhatian masyarakat yang menyaksikan.
“Untuk beratnya kerincingan ini bisa sampai 10 Kg. Tetapi anak-anak begitu semangat dalam menari sehingga tidak merasakan (beratnya). Harapan dengan mengangkat tari gedruk ini bisa nguri-nguri kesenian tradisional,” ucap.
Sementara itu, Ketua Panitia Tari Gedruk Kolosal, Surono menjelaskan, jika tarian tersebut sudah berkembang terutama di lima desa di Jatinom. Meliputi Desa Temuireng, Socokangsi, Bengking, Bonyokan dan Kelurahan Jatinom.
“Jadi 50 penari utama ini berasal dari empat desa dan satu kelurahan ini. Setiap tahunnya sebenarnya dipentaskan tetapi dua tahun selama pandemi sempat vakum. Biasanya juga ditarikan untuk menyambut kedatangan para tamu maupun pejabat,” ucapnya.
Surono menjelaskan, jika dibutuhkan stamina yang kuat untuk menarikan tari gedruk tersebut. Mengingat biasanya tarian itu ditarikan dalam durasi 45 menit hingga satu jam lamanya. Padahal pada kedua kaki penari terdapat kerincingan yang begitu berat.
“Biasanya para penari ini sebelumnya sudah terlatih dan pernah tampil dalam pentas reog. Jadi mereka yang menarikan harus yang benar-benar memiliki bakat. Jika tidak kuat untuk menarikan cukup bahaya,” ucapnya.
Surono pun terus mendorong pelestarian tari gedruk yang berkembang di Kecamatan Jatinom tersebut. Harapannya dapat terwadahi dalam berbagai kesempatan gelaran kesenian. Seperti untuk menyongsong Hari Jadi ke-218 Klaten tersebut.(ren/dam)
Editor : Damianus Bram