Salah satu perajin kayu batik Anik Sadremi, 46 memproduksi wayang kayu berukuran jumbo dengan ketinggian sekitar 2 meter. Tempat produksi di rumahnya juga menjadi yang pertama membuat kerajinan kayu batik dan akhirnya berkembang di Desa Jarum.
Kerajinan batik kayu mulai berkembang sejak 1990-an yang awalnya ada permintaan mewarnai topeng di tempat produksi tersebut. Dari permintaan itu, lantas keluarga besar Anik menggeluti usaha batik kayu tersebut.
”Ada beberapa kali proses membuat kerajinan kayu batik. Mulai dari mengolah sengon membentuk benda yang diinginkan. Kemudian membuat pola hingga proses membatik seperti membatik di kain menggunakan canting,” ucap Anik, Selasa (11/10).
Anik menjelaskan, terkait pemasaran sebelum ada pandemi Covid-19 dikirim ke berbagai daerah. Mulai ke Jogja, Solo, Jakarta hingga ke luar negeri. Hingga akhirnya mengalami keterpurukan karena tidak ada pemesanan.
Baru beberapa bulan ini kembali ada pesanan yang datang kepadanya berupa 200 tempat pensil dengan motif batik. Sedangkan untuk pemesanan wayang kayu tidak tentu, karena hanya pada peminat khusus. Biasanya digunakan untuk hiasan ruangan di rumah seperti tokoh krina, gatot kaca serta pandawa lima dan punakawan.
”Kayunya menggunakan jenis sengon karena memiliki daging putih dan mudah untuk dibatik. Terlebih lagi sengon tidak mudah berbubuk dan tahan akan serangan rayap. Terkadang juga menggunakan kayu jenis gamelina karena memiliki karakter yang sama,” tambahnya.
Menurutnya, pemilihan kayu untuk media membatik sebagai bentuk inovasi perajin di Desa Jarum sendiri. Terlebih lagi dia tidak merasa kesulitan untuk membatik di media kayu. Hanya saja harus teliti dalam proses pengerjaannya seperti membatik di kain.
Sularto menjelaskan, ada 48 pelaku UMKM batik di Desa Jarum. Dari total jumlah itu terdapat 30 UMKM yang menggeluti kayu batik. Saat ini kondisi mulai menggeliat meski pesanan yang datang belum sebanyak sebelum pandemi. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram