Ganjar sebelumnya memperkenalkan Bupati Klaten Sri Mulyani sebagai salah satu pemimpin perempuan di Jawa Tengah. Memiliki inovasi dalam mengembangkan padi rojolele yang sempat hilang maupun turun produksi. Tetapi dengan menggandeng Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bisa melahirkan padi rojolele dengan usia lebih pendek.
”Harganya jauh lebih tinggi. Jika gabah kering dari padi biasa harganya kira-kira Rp 3.800 per kg, maka srinar dan srinuk bisa mencapai Rp 5.000 per kg. Saya kira ini hasil riset yang bisa di hilirisasi,” ucap Ganjar.
Atas apresiasi itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Terlebih lagi secara tidak langsung varietas baru dari padi rojolele sudah dikenalkan luas. Mengingat acara pelantikan itu juga dihadiri Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri.
”Alhamdulillah ternyata kerja keras selama ini diapresiasi. Ini sangat luar biasa, rojolele srinuk dan srinar diakui bapak gubernur. Ini menjadi salah satu cara untuk mempromosikan padi rojolele,” ucap Mulyani saat ditemui usai acara di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (1/2/2023).
Mulyani pun mengajak petani di Klaten untuk menanam padi rojolele dengan varietas unggulan yakni srinuk dan srinar. Kedepannya, dalam pengembangan padi rojolele terdapat program pembagian benih kepada kelompok petani. Ada pun sasarannya bagi mereka yang kurang mampu.
”Nantinya kami akan menyebarkan benih ini. Tetapi bagaimana benih ini tidak dijual di luar, penyediannya hanya ada di kami (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian). Kalau berasnya ke Papua dan ujung mana pun boleh. Tapi kalau benihnya jangan sampai bocor, ini yang terus kami kawal betul,” ucapnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Widiyanti menjelaskan luas tanam padi rojolele untuk varietas srinuk pada 2022 terdapat 894 hektare. Terdapat 3.576 petani di Klaten yang sudah menanam varietas unggulan tersebut. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram