Mereka tiba di Kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan pada Pukul 10.00 WIB yang diawali dengan kegiatan bersama di restauran setempat. Kemudian mengunjungi Candi Prambanan yang berbaur dengan pengunjung wisatawan mancanegara (Wisman) dan nusantara. Tampak mereka mengelilingi bangunan candi sambil mengabadikan foto maupun diajak berswafoto menggunakan ponsel.
Dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju candi Budha yang masih dalam Komplek TWC Prambanan yakni Candi Sewu. Mereka mengelilingi candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atas perintah penguasa Kerajaan Mataram Rakai Panangkaran. Terdiri dari satu candi induk, 240 candi perwara dan empat pasang candi apit.
Seluruh perjalanan itu diikuti 26 biksu dari 33 biksu yang mengikuti rutual thudong, guru dan Kepala Vihara sekira 40 orang. Sedangkan enam biksu lainnya memilih untuk istirahat setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia.
Salah satu biksu asal Indonesia yang mengikuti ritual thudong yakni Bhante Wawan. Ia menjelaskan kedatangannya ke beberapa candi untuk memperkenal budaya Hindu dan Budha peninggalan zaman Hindu dan Budha di Indonesia. Terutama yang ada di seputaran DIJ dan Jawa Tengah.
“Jadi memang ada satu hari dimana para biksu ini tidak mengikuti kegiatan apa pun. Benar-benar free untuk berkunjung ke Candi Prambanan dan Sewu ini,” ucap Bhante Wawan saat ditemui di Kompleks TWC Prambanan ini, Jumat (2/6/2023).
Diakuinya memang tidak mudah melakukan perjalanan ribuan kilometer selama 71 hari dengan melintasi sejumlah negara dan kota untuk sampai ke Borobudur. Apalagi harus melewati cuaca ekstrem di Malaysia yang cukup panas. Termasuk diguyur hujan lebat di Karawang dan Bekasi. Tetapi tekad yang bulat untuk menjalani ritual thudong hingga akhirnya sampai di Indonesia.
“Menyerah itu biasanya di awal-awal. Otot kaki seperti mulai kaku. Orang yang suka berjalan pasti pernah mengalaminya. Tetapi ketika memasuki hari keempat atau kelima itu sudah biasa. Kami selama ini biasa melakukan thudong,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, para biksu dari berbagai negara itu takjub dengan keramahan yang dditunjukan warga Indonesia. Tidak memandang suku, agama dan ras tetapi antusias menyambut perjalanan rombongan biksu tersebut.
“Ya inilah wajah Indonesia sesungguhnya. Wajah-wajah toleransi, wajah-wajah murah senyum. Tanpa memadang kaya maupun miskin,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu biksu asal Thailand, Bhante Abhinan Khanawiro, mengungkapkan jika dirinya telah melakukan ritual jalan kaki dari Thailand ke Borobudur sebanyak 33 orang. Diakuinya perjalanan yang sangat melelahkan namun semua terbayarkan karena sudah sampai di Borobudur dan berkunjung ke Candi Prambanan dan Candi Sewu
“Terima kasih orang Indonesia, bapak ibu yang memberi makanan saat perjalanan,” ucap Bhante Abhinan Khanawiro yang sedikit menguasai Bahasa Indonesia ini.(ren/dam) Editor : Damianus Bram