Pergelaran wayang disajikan dosen Fakultas Seni Pertunjukan Jaka Rianto. Berdurasi sekira 5 menit, Jaka Rianto menampilkan tokoh Gatotkaca. Dalam aksinya, dia ingin menyampaikan pesan, bahwa di Klaten terdapat sentra kerajinan wayang kulit.
“Tidak ada iringan musik gamelan. Tapi harus bisa diwujudkan. Sudah diatur tim kreatif, supaya lebih efektif dalam gerak dan dialog. Tanpa musik dan dalam situasi yang sangat singkat,” kata Jaka.
Selanjutnya, ISI Surakarta menyajikan tari jemparingan gaya klasik Surakarta dengan tema keprajuritan. Ditampilkan empat mahasiswa Program Studi (Prodi) Tari. Mereka mengiringi Sandiaga Uno, dari Joglo Omah Wayang menuju ke booth usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Tari jemparingan ini menunjukan semangat para generasi muda tidak pernah luntur. Terutama dalam melestarikan seni dan budaya Jawa,” ungkap Kaprodi Tari ISI Surakarta Anggono Kusumo Wibowo.
Anggono menyebut tidak ada persiapan khusus yang dilakukan keempat mahasiswanya. Maklum, tarian ini sudah lama dipelajari mahasiswa.
“Tari Jemparingan ini sebagai cucuk lampah mas menteri. Sebetulnya pesan yang ingin disampaikan dalam tari ini adalah pendidikan karakter. Kaitannya disiplin dan memahami lingkungan,” bebernya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram