Keduanya selama ini dikenal sebagai rekan kerja yang sehari-hari berjualan beras. Menempati rumah berukuran sekira 12 x 8 meter yang dikontrak pengusaha asal Bandung. Oleh warga pelaku biasa dipanggil dengan nama Daud. Selama ini dikenal sebagai seorang sopir dalam usaha beras tersebut.
Sementara perempuan yang menjadi korban R atau DE. Diketahui keduanya sudah tiga tahun menempati rumah kontrakan yang sehari-harinya untuk pengemasan beras tersebut. Sedangkan pelaku sendiri baru menempati rumah tersebut selama tiga bulan.
“Biasanya di rumah itu banyak orang. Tapi kok kebetulan saja hari itu kok hanya ada dua orang itu. Korban selama ini orangnya pendiam. Disapa juga diam,” ucap Ima, 37, warga Desa Nangsri, yang jarak rumahnya dari lokasi kejadian kurang dari 30 meter, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Kamis (22/6/2023).
Lebih lanjut, Ima mengungkapkan, korban tidak memiliki suami tetapi ada keluarga di Bandung. Selama menempati rumah kontrakan tersebut, korban bekerja sebagai tukang sortir dan bertugas mengemasi beras. Hanya saja selama ini kurang bersosialisasi dengan warga sekitarnya.
“Dia itu hanya keluar kalau mau berbelanja ke warung saja. Tidak pernah berbincang-bincang sama sekali dengan warga. Kadang keluarnya kalau bosnya yang dari Bandung datang lalu diajak jalan-jalan menggunakan mobil,” ucap Ima.
Meski sudah tiga tahun lamanya menempati rumah kontrakan itu tetapi Ima tidak mengetahui seluk belum korban secara mendalam. Termasuk adanya permasalahan yang terjadi di rumah hingga berakhir pada pembunuhan sadir dengan mutilasi.
“Tak pernah dengar suara apa-apa (cekcok) dari rumah itu. Selama ini adem ayem saja. Termasuk saat peristiwa pembunuhan itu terjadi tidak terdengar apa-apa,” ucap Ima.
Diakuinya, saat pembunuhan itu terjadi dia sedang terlelap tidur. Tetapi dia mendapatkan informasi kalau di sekitar rumah itu mengalami listrik padam. Namun tak terdengar teriakan minta tolong dari korban.
“Tahu-tahunya ada polisi yang datang ke rumah itu sekira pukul 05.00. Awalnya saya kira Mas Daud ini yang terkena kasus narkoba. Soalnya di tangannya penuh dengan tato. Ternyata malah pembunuhan mutilasi itu,” Ima.
Sementara itu, Kepala Desa Nangsri Sumarjo mengungkapkan, pelaku dan korban selama ini hanya izin sampai ketua RT dan RW saja. Tidak sampai diteruskan ke pemerintah desa.
“Jadi mereka ini bukan warga Nangsri tetapi pendatang. Memang untuk rumah yang dikontrakan itu milik warga Nangsri,” ucap Sumarjo.
Sumarjo mengakui, baik pelaku maupun korban jarang bersosialisasi dengan pemerintah desa. Meski begitu, pihaknya mengetahui, rumah kontrakan tersebut digunakan untuk usaha beras.
Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo, jenazah korban yang diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jateng akan dijemput oleh keluarganya dari Bandung. Mereka akan tiba di Klaten pada Jumat (23/6/2023), selanjutnya dibawa ke makamkan di kota asalnya. (ren/bun/dam) Editor : Damianus Bram