Sebagai gantinya sumber karbohidrat bisa memanfaatkan sumber pangan lokal seperti entik, jagung hingga ganyong. Hal itu diimplementasikan dalam setiap kegiatan rapat terutama yang digelar pada hari Kamis.
”Kami menyosialisasikan dulu di internal kami di DKPP. Kami awali tidak hanya saat rapat saja sebenarnya. Tetapi setiap Kamis, kami usahakan untuk tidak mengonsumsi nasi,” ucap Kepala DKPP Klaten, Widiyanti, kemarin (29/6/2023).
Widiyanti mengaku, gerakan Kemis Ora Nyego memang tidak mudah bagi mereka yang belum terbiasa. Mengingat nasi sudah menjadi makanan sehari-hari orang Indonesia. Tetapi hal itu perlu dilakukan sekaligus sebagai upaya edukasi bahwa sumber karbohidrat tidak hanya nasi.
Sumber karbohidrat bisa diperoleh dari bahan pangan lokal. Hal itu juga sekaligus menggeraan produksi pangan lokal selain beras. Selain itu, program yang digulirkan di DKPP itu sebagai upaya mendukung dan menjaga ketahanan pangan. Termasuk menjaga produksi beras di Kota Bersinar tetap surplus.
”Jika gerakan satu hari dalam satu pekan tidak mengonsumsi nasi dilakukan di seluruh Klaten, diperkirakan ketergantungan terhadap konsumsi beras bisa berkurang hingga belasan ribu ton. Berdasarkan data dari badan pusat statistik (BPS) untuk konsumsi beras per kapita per pekan pada 2022 tercatat 1.256 kg,” ucapnya.
Widiyanti mengungkapkan, dari data tersebut, konsumsi rata-rata per hari per kapita mencapai 179 gram. Lewat angka konsumsi rata-rata per kapita itu dalam setahun bisa mengurangi konsumsi beras sebesar 9,308 kg per kapita. Apabila gerakan itu dilakukan oleh seluruh warga Klaten dengan jumlah penduduknya mencapai 1,2 juta jiwa, maka penghematan konsumsi beras mencapai 11.881 ton dalam setahun saja.
”Misalkan 10 persen warga Klaten melaksanakan program Kemis Ora Nyego maka bisa mengurangi konsumsi beras 1.188 ton” tambahnya.
Salah satu upaya DKPP untuk mendorong dan menghadirkan panganan lokal yang bisa menggantikan nasi melalui gelaran lomba pangan lokal beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA). Bekerjasama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) beberapa waktu yang lalu. Diharapkan beragam menu pangan lokal dan bergizi itu bisa dimplementasikan untuk konsumsi sehari-hari. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram