Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Potensi Kopi Arabika Sapuangin dari Desa Tegalmulyo Klaten, Digandrungi Sampai di Belanda

Angga Purenda • Minggu, 13 Agustus 2023 | 00:10 WIB
NIKMAT: Proses penyeduhan kopi Sapuangin, dalam pameran pembangunan, pertanian, dan pasar tani di Taman Kuliner MPP
NIKMAT: Proses penyeduhan kopi Sapuangin, dalam pameran pembangunan, pertanian, dan pasar tani di Taman Kuliner MPP

RADARSOLO.COM - Kawasan wisata Sapuangin, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten kian ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Tak hanya menikmati panorama alam lereng Gunung Merapi. Para pengunjung juga disuguhi seduhan nikmat kopi khas Sapuangin.

Pengunjung biasa menikmati kopi di salah satu kedai di Dusun Pajegan, Desa Tegalmulyo, Kemalang. Kawasan ini diketahui merupakan perkampungan paling ujung di Tegalmulyo. Terletak di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Selain pariwisata, ada potensi lain yang terus dikembangkan di wilayah tersebut. Apalagi kalau bukan kopi arabika khas Sapuangin.

Sejatinya, potensi kopi dari Desa Tegalmulyo sudah ada sejak lama. Namun, dulu harganya sering anjlok ketika panen. Alhasil para petani memilih menebang pohonnya.

Baru pada 2015, potensi kopi di Tegalmulyo coba dihidupkan kembali oleh komunitas di sana. Hingga akhirnya dilakukan penanaman serentak pada 2018. Dan terus berkembang, hingga berdiri kedai kopi yang dikelola Kelompok Tani Tegal Subur.

“Jumlah pohon kopi di Sapuangin sekarang ratusan batang. Itu pun tidak ditanam satu blok lahan. Ditanam bersama dengan sayuran dan lainnya,” kata anggota Kelompok Tani Tegal Subur Jumar, 31.

Kelompok tani ini mayoritas diisi anak-anak muda. Tidak sekadar menanam kopi sendiri, mereka juga membelinya dari para petani. Hanya saja, kopi yang dibeli masih berbentuk ceri. Namun, harganya di atas pasaran. Supaya para petani juga diuntungkan.

Kopi tersebut lalu diolah dan dipasarkan, dalam bentuk roasted beans atau biji kopi yang sudah disangrai. Kemasan 200 gram dibanderol Rp 75 ribu-Rp 85 ribu. Tergantung varietasnya. Kopi Sapuangin ini biasanya dipasok ke kedai-kedai kopi di Klaten dan Kota Jogja.

“Pernah juga di bawa ke Belanda. Sudah ada testimoninya juga. Kata orang di sana, kopi Sapuangin rasanya enak dan nikmat,” imbuh Jumar.

Dampak dari pengembangan kopi Sapuangin, memberikan nilai ekonomi tersendiri bagi para petani lereng Gunung Merapi. Termasuk bagi kelompok tani setempat. Karena tiap akhir pekan, bisa menjual puluhan cangkir kopi.

“Sebenarnya kopi itu sampingan buat petani di Sapuangin. Karena tanaman utamanya sayuran, daun bawang, cabai, dan kembang kol. Dalam setahun bisa dua kali panen kopi. Hasilnya lumayan,” beber rekan Jumar, Didik Riyanto.

Didik membenarkan, kopi Sapuangin mampu mendongkrak perekonomian para petani. Dia berharap, kedai-kedai kopi di Solo Raya bersedia melirik kopi Sapuangin. (ren/fer/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#Desa Tegalmulyo #gunung merapi #kopi #sapuangin