RADARKLATEN.COM - Petani di Desa Talang, Kecamatan Bayat tengah diusahakan untuk mendapatkan pengairan dari waduk Rowo Jombor. Hal itu menyusul sempat berhentinya pengairan dari waduk seluas 186 hektar itu karena pengerjaan proyek pintu air dan rehabilitasi jaringan irigasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Widiyanti menyebutkan pihaknya sudah merespon keluhan para petani Talang tersebut. Telah ditindaklanjuti dengan mengirimkan surat ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Klaten.
“Sudah dikoordinasikan dengan DPU-PR dan BBWS untuk segera ditambahi oncoran (pengairan). Ini sudah dalam proses (penambahan pengairan), tapi dilakukan secara berkala,” ucap Widiyanti ditemui sesuai rakor di Pendapa Pemkab Klaten, Senin (18/9).
Lebih lanjut, Widiyanti menjelaskan, saat ini telah dihitung kebutuhan air untuk mengairi lahan persawahan di Desa Talang dan sekitarnya. Total ada sekira seluas 80 hektar yang harus dialiri dengan harapan tetap bisa panen.
“Terpenting telah diatur agar tanamannya tetap bisa panen. Sedangkan untuk pengerjaan pintu air dan rehabilitasi jaringan irigasi dilaksanakan dalam rangka melancarkan kegiatan pengairan ke depannya,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan laporan secara langsung dari petani maupun DKPP Klaten terkait hal tersebut.
“Terutamanya di daerah selatan Rowo Jombor, khususnya Kecamatan Bayat terdapat beberapa titik. Ini disebabkan adanya pembangunan saluran irigasi. Saya minta untuk dikebut pengerjaannya sehingga bisa mengalir kembali,” ucap Mulyani.
Lebih lanjut, Mulyani menjelaskan, lahan pertanian di sekitar Kecamatan Bayat selama ini memang mengandalkan pengairan dari waduk Rowo Jombor tersebut. Terlebih lagi di saat musim kemarau seperti saat ini.
Tetapi dikarenakan ada pengerjaan rehabilitasi jaringan irigasi menjadikan air tidak sampai ke lahan pengairan. Gangguan itu menyebabkan para petani mengandalkan sumur dalam meski airnya tidak lancar.
“Saya harapkan pihak terkait untuk memperhatikan keluhan para petani. Solusinya untuk pengerjaan proyeknya dipercepat. Harapannya air tetap mengaliri hingga ke lahan sawah milik petani,” ucapnya.
Dampak dari pengerjaan proyek tersebut menjadikan lahan pertanian di Desa Talang, Kecamatan Bayat sempat tak bisa mengandalkan aliran air irigasi dari Rowo Jombor. Seperti yang dialami salah satu petaninya, Sri Lestari, 53.
“Untuk sementara ini mengandalkan sumur dalam. Sebenarnya ada tiga titik sumur dalam di sekitar lahan persawahan. Tetapi yang airnya masih lancar tinggal satu titik saja, jadi untuk penggunaannya ya bergantian,” ucap Sri Lestari.
Ia mengungkapkan, dampak dari proyek itu menjadikan minimal luas sekira 50 hektar lahan persawahan di sejumlah desa di Kecamatan Bayat kesulitan mendapatkan pengairan. Selain Desa Talang, juga berdampak ke Desa Tawangrejo, Gununggajah, Kebon dan Jotangan.
“Airnya memang tidak lancar karena pada saluran irigasi Rowo Jombor sedang dilakukan perbaikan. Sempat mengalir beberapa hari sebelum akhirnya tidak mengalir karena itu,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Klaten, Suryanto mengatakan sudah mendapatkan laporan terkait keluhan dari para petani tersebut. Ia mengungkapkan, proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Rowo Jombor ditargetkan selesai pada September ini. Mengingat progress dari pengerjaan proyek tersebut sudah di atas 60 persen. (ren)
Editor : Damianus Bram