RADARKLATEN.COM – Sejumlah objek diduga cagar budaya (ODCB) ditemukan oleh warga saat proses pembuatan sirkuit untuk kejuaraan motocross di Desa Leses, Kecamatan Manisrenggo. Benda itu berupa dua batu yoni, arca ganesha, wadah dari logam hingga batu kenong.
Kali pertama ditemukan oleh Disman Ardiyanto, 42, warga Desa Kranggan, Kecamatan Manisrenggo. Dia menyewa tanah kas desa yang sudah tidak produktif seluas 3,5 hektare untuk dibuat sirkuit motocross. Kejuaraan balap motor yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah dan luar negeri itu akan dihelat akhir pekan ini.
“Kalau patung lembu sebenarnya sudah lama diketahui oleh warga karena berada di atas permukaan. Sedangkan untuk dua batu yoni itu ditemukan saat bersih-bersih pada Jumat lalu (27/10). Kemudian dieksekusi pada Sabtu-Minggu (28-29/10),” ucap Disman saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di lokasi penemuan ODCB, Selasa (31/10).
Disman menjelaskan, dua batu yoni ditemukan di kedalaman 1 meter dari permukaan. Sedangkan untuk arca ganesha ditemukan tepat di bawah batu yoni. Tapi sayang pada bagian wajahnya mengalami kerusakan akibat alat berat karena ketidaktahuan terdapat ODCB lagi.
Atas temuan itu, Disman berinisiatif untuk mengamankan seluruh ODCB pada satu lokasi. Agar tidak terkena alat berat saat proses pembuatan sirkuit motocross. Dinas terkait sudah meninjau hasil temuan batu yoni hingga arca ganesha tersebut.
“Tapi saat dinas datang, saya waktu itu tidak di lokasi. Tapi saya amankan dari jalur sirkuit motocross,” ucapnya.
Penemuan ODCB itu menjadi perhatian pegiat cagar budaya asal Klaten, Hari Wahyudi. Dia mengungkap bahwa temuan itu menambah inventarisasi ODCB di Klaten dan menjadi data baru.
“Dilihat dari konteks benda-benda yang ditemukan dalam satu area lahan, ini jelas menunjukkan tempat tersebut merupakan reruntuhan bangunan candi yang bercorak siwaisme. Ini diperkuat atas temuan dua buah batu yoni, arca ganesha dan arca nandi dalam satu lokasi,” ucap Hari.
Lebih lanjut, Hari menjelaskan, temuan batu yoni hingga arca ganesha itu juga bersamaan dengan batuan candi lainnya. Dilihat dari jenisnya berasal dari abad 8 sampai 10 masehi pada masa kejayaan mataram kuno Jawa Tengah.
“Harapan saya selaku pegiat cagar budaya yakni agar pemerintah desa bersama pemerintah daerah untuk dapat menyelamatkan ODCB itu. Bila perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di tempat tersebut, apakah di bawahnya masih ada struktur, sebelum dibuat sirkuit motocross,” ujar Hari.
Sementara itu, Ketua Pokja Penyelamatan dan Keamanan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Deny Wahyu Hidayat menjelaskan, pihaknya sudah meninjau ke lokasi pada Minggu (29/10) lalu.
“Ada dua batu yoni yang patah akibat alat berat. Kemudian arca ganesha yang rusak bagian muka akibat alat berat juga. Sedangkan wadah dari logam sudah rusak bagian bawah karena korosi,” ucapnya.
Deny mengungkapkan, untuk langkah selanjutnya akan dilakukan analisas dengan menggandeng tim arkeologi di Kantor BPK Wilayah X. Di lain sisi, Deny mendapatkan komitmen dari warga yang siap untuk melindungi temuan tersebut. (ren/bun)
Editor : Damianus Bram