RADARSOLO.COM - Tradisi Yaa Qowiyyu atau sebar kue apem telah melekat dengan Kecamatan Jatinom, Klaten yang digelar setiap bulan safar.
Tapi kini, masyarakat Jatinom punya ikon baru, untuk menarik wisatawan.
Yakni Festival Durian Jatinom yang digelar di Lapangan Desa Randulanang, Jatinom pada Sabtu (27/1).
Menariknya, acara yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah itu miliki kegiatan yang hampir sama dengan tradisi Yaa Qowiyyu.
Jika Yaa Qowiyyu menyebar apem, maka Festival Durian Jatinom dimeriahkan dengan sebar durian.
Durian yang disebar telah dikupas dan dikemas menggunakan kotak plastik.
Selain itu, Pemerintah Kecamatan Jatinom juga menyiapkan durian utuh gratis bagi pengunjung yang membawa voucher.
Festival Durian Jatinom dimulai dengan kegiatan senam bersama masyarakat, yang juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize.
Dilanjutkan dengan kirab tiga gunungan yang berisi hasil bumi dan buah durian yang sudah dikupas.
Kemudian doa bersama, hingga akhirnya dua gunungan berisikan aneka sayur menjadi rebutan pengunjung.
Sementara gunungan durian yang sudah dikupas, disebar oleh Bupati Klaten Sri Mulyani bersama Forkompimda Klaten dari atas panggung.
Ada ratusan buah durian yang disebar dalam kemasan tersebut.
Acara dilanjutkan dengan pembagian buah durian gratis bagi pengunjung di empat stand yang tersedia.
“Alhamdulillah digelar kembali Festival Durian Jatinom setelah sebelumnya tidak digelar karena Covid-19," ujar Bupati Klaten Sri Mulyani.
Bupati mengapresiasi event yang disambut antusias masyarakat dan pengunjung dari berbagai daerah.
Sehingga bisa menjadi potensi wisata di Jatinom.
"Luar biasa antusiasnya untuk hadir, berbondong-bondong untuk menyasikan dan merayakan serta makan durian bersama,” imbuh Mulyani.
Lebih lanjut, Mulyani meminta masyarakat untuk ikut mendukung Festival Durian Jatinom. Agar Klaten bisa menambah ikon baru.
Khususnya di wilayah Kecamatan Jatinom, setelah sebelumnya sudah ada tradisi Yaa Qowiyyu.
Di sisi lain, Klaten juga sudah memiliki tradisi sebar ketupat tiap syawalan di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.
Maka dari itu, Festival Durian Jatinom bisa menjadi ikon baru karena sudah digelar secara rutin setiap tahunnya. Kecuali saat pandemi Covid-19.
“Pak camat dan sesepuh telah memulai kegiatan festival durian beberapa tahun lalu. Mari lestarikan dan tingkatkan kegiatan ini," papar Mulyani.
Pihaknya juga berharap Festival Durian Jatinom bisa menjadi ikon baru di Klaten.
Sehingga gaung dari Festival Durian Jatinom ini bisa didengar hingga tingkat nasional. Dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Termasuk menambah kekuatan para petani untuk menanam pohon buah durian di wilayah Klaten.
Camat Jatinom Agus Sunyata mengatakan, lebih dari 4.000 paket durian siap santap dibagikan dalam Festival Durian Jatinom tersebut.
Durian dibagikan dalam wadah tertutup sehingga memudahkan masyarakat untuk menyantap secara langsung maupun membawa pulang.
“Durian yang dibagikan merupakan hasil kebun dari para petani durian Desa Randulanang dan Jatinom,” ujar Agus.
Salah satu pengunjung Festival Durian Jatinom, Lestari, 33, mengaku baru pertama kali menghadiri acara tersebut.
Dia sangat senang bisa mendapatkan buah durian secara gratis pada festival tersebut.
“Tadi juga ikut berebut buah durian yang disebar. Susah dapatnya. Tapi ini sudah dapat voucher yang saya tukar dengan buah durian,” ujar warga Jatinom itu. (ren/ria)
Editor : Syahaamah Fikria