RADARSOLO.COM – Pemerintah Kecamatan Gantiwarno, Klaten terus bergerak cepat dalam menangani kejadian bencana longsor yang terjadi di wilayah tersebut.
Hal ini menyusul hujan deras dengan intensitas tinggi dalam waktu beberapa hari terakhir ini.
Salah satu bencana yang terjadi, yakni longsornya talut di Dusun Bometen, Desa Ngandong pada Rabu (31/1). Mengakibatkan dua rumah terdampak dan delapan jiwa harus mengungsi.
Mendapati laporan itu, Camat Gantiwarno Veronica Retno Setyaningsih langsung mengecek ke lokasi.Serta berkoordinasi dengan BPBD Klaten.
“Kami langsung melakukan evakuasi terhadap warga.Termasuk menyediakan logistik selama mengungsi," ucap Retno saat ditemui di Kantor Kecamatan Gantiwarno.
Lebih lanjut, Retno menjelaskan, setelah mendatangi lokasi longsor, pihaknya langsung melaporkan ke pimpinan.
Diketahui, bencana longsor talut yang biasa digunakan sebagai jalan desa itu salah satunya juga dipicu aktivitas truk tambang di Kelurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul, DIY.
Namun, diakui Veronica, untuk persoalan aktivitas truk tambang itu bukan menjadi wewenang pihaknya.
“Untuk perbaikan talut sudah mulai dilakukan. Sebelumnya telah mendapatkan bantuan dari DPUPR dan BPBD Klaten,” tambah Veronica.
Selain peristiwa longsor, tanggul jebol juga terjadi di Sungai Afur Sangiran di Desa Katekan, Rabu (31/1).
Dia menyebut, untuk penanganan akan dilakukan pemasangan bronjong kawat dan karung berisikan pasir.
"Pelaksanaannya akan dilakukan mulai Senin (5/2). Tetapi untuk sungainya perlu dilakukan normalisasi karena sudah terjadi pendangkalan. Sungai ini melintasi tiga desa, meliputi Katekan, Kerten, dan Sawit,” jelas dia.
Pada Sungai Afur Sangiran juga ditemukan sebuah bangunan berdiri di atasnya.
Dia sudah melaporkan hal tersebut ke pihak terkait.
Mengenai penertiban terhadap bangunan tersebut menjadi wewenang Satpol PP dan Damkar Klaten.
Sementara itu, hujan deras dengan intensitas tinggi juga menyebabkan lahan persawahan di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno terendam.
Disebabkan meluapnya sodetan yang melintasi desa setempat. Luasan lahan persawahan yang sempat terendam air sekira 16 hektare.
“Paling parah kemarin (merendam lahan persawahannya). Saya sampai menanam ulang tanaman padi hingga tiga kali. Soalnya baru saja ditanam, sehingga rusak,” jelas salah seorang petani asal Desa Ngandong, Murni, 55.
Lebih lanjut, Murni mengungkapkan, untuk membeli benih tanaman padi itu harus merogoh kocek hingga Rp 500 ribu.
Karena harus melakukan penanaman ulang, Murni pun mengaku jika biaya menanam padi menjadi membengkak. (ren/nik/ria)
Editor : Syahaamah Fikria