Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pondok Pesantren Al Qohar Tulung Klaten Bekali Santri Keterampilan Membuat Tas, Tembus Pasar Luar Negeri

Angga Purenda • Kamis, 28 Maret 2024 | 03:52 WIB
Khusnul Itsariati saat mengajarkan para santri Ponpes Al Qohar menjahit. (Angga Purenda/Radar Solo)
Khusnul Itsariati saat mengajarkan para santri Ponpes Al Qohar menjahit. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Qohar di Dusun Pulon, Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten tak sekadar membekali para santrinya dengan ilmu keagamaan semata. Tetapi juga membekali para santrinya dengan keterampilan memproduksi tas yang mampu tembus pasar luar negeri.

Ponpes Al Qohar didirikan oleh almarhum M. Khusni yang dirintis lewat kegiatan mengaji kitab dengan melibatkan para santri kalong dari warga sekitar. Begitu juga kegiatan taman pendidikan alquran (TPA) yang sudah eksis sejak 1980-an. Tetapi secara resmi mengantongi izin dan terdaftar ke pemerintah pada 2006.

Saat ini ada 15 santri di Ponpes Al Qohar dari berbagai jenjang pendidikan. Didominasi berasal dari Kabupaten Boyolali karena lokasinya berada di perbatasan dengan Kota Susu tersebut. Berbagai kegiatan dilakukan para santri selama Ramadhan kali ini. Seperti mengaji kitab, tadarusan hingga salat Tarawih.

”Kalau di luar kegiatan Ramadhan, saya juga mengenalkan usaha pembuatan tas yang sudah saya rintis sejak 2011. Biasanya dalam seminggu ada dua kali kegiatan. Saya harapkan setelah keluar dari ponpes, para santri ini bisa mandiri,” ujar pengurus Ponpes Al Qohar, Khusnul Itsariati, 38, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Minggu (24/3).

Lebih lanjut, perempuan yang akrab dipanggil Ria itu menceritakan awalnya bekerja sebagai pengajar. Lalu diminta orang tua untuk membantu mengurus ponpes. Hingga akhirnya saat kelahiran anak pertamanya, dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai pengajar.

”Saya izin ke orang tua untuk usaha. Modal awal dari mesin jahit (manual, Red) dan untuk beli kain kanvas sekira Rp 150 ribu. Saat awal-awal pemesanan ya hanya satu buah sampai dua buah dengan tasnya masih polos,” jelas Ria.

Awalnya, produksi tas yang diberi merek Kimi Bag itu hanya dia bersama sang suami. Sebelum akhirnya mencoba melibatkan para santri pada 2012. Mulai dari mengajarkan menjahit dengan mesin jahit hingga pengemasan produk.

Pengurus pondok pun terus berusaha menumbuhkan minat para santri pada produksi tas kanvas tersebut dengan harapan saat keluar dari ponpes sudah memiliki keterampilan dan pengalaman.

”Dari nol, kami ajarkan dulu. Dari belum bisa apa-apa. Mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Sampai mengenal mesin jahit hingga bagaimana mengemas produk tas untuk dikirim ke luar negeri,” jelas Ria.

Tas buatan dari Ponpes Al Qohar ini sudah merambah pasar luar negeri. Seperti pada 2013 pernah mendapatkan pemesanan 21 ribu tas kanvas ke Swiss. Termasuk mengirim 100 buah tas goni ke Spanyol. Begitu juga menerima pemesanan tas secara satuan secara costume ke sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Hongkong dan Jepang.

”Kalau untuk santri yang sudah tidak sekolah dari pagi sampai siang hari (belajar memproduksi tas). Sedangkan sore sudah kegiatan ponpes. Kalau untuk anak-anak santri yang sekolah SMP-SMA, ya setelah sekolah sekira 1 jam. Bisa juga hari Minggu,  untuk latihan pengemasan agar kelak saat para santri ini memiliki usaha apa pun agar kemasannya menarik dan unik,” tambah Ria. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#kecamatan tulung #Pondok Pesantren #ramadhan