Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pemkab Klaten Bakal Kembangkan Rojolele Srinuk Pada Sektor Budidaya dan Promosi

Angga Purenda • Minggu, 14 April 2024 | 22:36 WIB
OLEH-OLEH: Bupati Klaten Sri Mulyani saat menyerahkan produk beras rojolele ke perwakilan Kementerian Pertanian (Kementan) di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, beberapa waktu lalu.
OLEH-OLEH: Bupati Klaten Sri Mulyani saat menyerahkan produk beras rojolele ke perwakilan Kementerian Pertanian (Kementan) di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, beberapa waktu lalu.

RADARSOLO.COM - Padi rojolele Srinuk menjadi inovasi yang mengantarkan Klaten menjadi Kabupaten Terinovatif di Innovative Government Award (IGA) 2023.

Penghargaan itu diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten pada pertengahan Desember 2023 di Jakarta.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Widiyanti mengungkapkan, setelah memperoleh penghargaan tersebut, pengembangan kedepannya yang terpenting pada sektor budidaya dan promosi.

Meski saat ini telah mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Klaten membeli beras rojolele srinuk.

”Untuk pengembangan rojolele kedepannya selain di sektor budidaya juga aspek promosi. Itu yang harus dilakukan. Promosi ini baik itu di dalam melalui pameran maupun promosi secara internal,” ujar Widiyanti saat ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.

Widiyanti menambahkan, harga beras rojolele  untuk pengemasan secara sederhana di pasaran di harga Rp 17.000-Rp 18.000 per kilogram (kg). Sedangkan yang dikemas vakum bisa di atas Rp 20 ribu per kg.

”Memang setara dengan menthik wangi karena sama-sama beras aromatik,” tambah Widiyanti.

Di sisi lain, Widiyanti mengungkapkan, dukungan terhadap petani di Klaten agar menanam padi rojolele pada lahan pertaniannya juga dilakukan.

Salah satunya dengan pengadaan demplot benih dan pupuknya bagi kelompok tani.

”Ini juga sebagai ajang sosialisasi kepada para petani dalam membudidayakan padi rojolele varietas Srinuk memakai pupuk organik. Dikarenakan pupuk organik memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dari beras rojolele Srinuk itu sendiri,” jelas Widiyanti.

Sementara itu, DKPP Klaten menargetkan luas tanam padi rojolele minimal 900 hektare. Tersebar hampir di 26 kecamatan yang ada di Klaten.

Mengingat pada tahun sebelumnya mampu hingga 1.000 hektare untuk luasan tanam padi rojolele.

”Untuk sampai saat ini sudah ada 220 hektare yang ditanami padi rojolele. Target secara khusus tidak ada. Tapi minimal tertanam di lahan seluas 900 hektare,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKPP Klaten Lilik Nugraharja.

Lilik mengungkapkan, agar bisa mendorong petani menanam padi rojolele dengan memberikan dukungan berupa penyediaan bibit.

Termasuk pupuk organik untuk lahan seluas 300 hektare. Harapannya dengan stimulan itu menjadikan luas tanam padi rojolele di Klaten terus bertambah. (ren/adi)

Editor : Damianus Bram
#klaten #rojolele srinuk #padi #Innovative Government Award