RADARSOLO.COM – Masing-masing nama desa di Kabupaten Klaten memiliki latar belakang berdasarkan cerita rakyat.
Salah satunya adalah Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Klaten.
Dikutip dari buku Cerita-Cerita Legenda di Kabupaten Klaten karya Danang Santosa- Wisnu Aji Nugraha, kehidupan warga Desa Kalikebo begitu tenteram dan damai.
Masing-masing warga saling bertoleransi dan menghormati. Nyaris tidak ada masalah di desa setempat.
Selain itu, alamnya juga asri. Mayoritas penduduknya merupakan petani.
Mereka mengolah lahan dengan cara tradisional. Salah satunya menggunakan kerbau untuk membajak sawah.
Ketika posisi matahari sudah tepat di atas kepala, kerbau-kerbau tersebut diistirahatkan.
Dibiarkan berkubang di sungai yang dipayungi dahan-dahan pohon.
Hari itu memang begitu terik, seorang petani yang membajak sawah menggunakan kerbau ikut kepanasan.
Dia lalu mandi di sungai dengan airnya yang jernih, sembari menunggu kerbaunya berkubang.
Selesai mandi, petani tersebut menghampiri kerbaunya dengan maksud diajak kembali membajak sawah.
Beberapa kali kerbau dicambuk agar segera berdiri dari tempatnya berkubang.
Namun, kerbau tersebut tak menghiraukan peringatan dari majikannya.
Hingga akhirnya si petani pun kesal. Dia pun berujar, “Kerbau kok diam saja seperti batu,” hardiknya.
Tanpa diduga, hardikan si petani menjadi kenyataan. Kerbau yang selama ini setia menemaninya membajak sawah, berubah menjadi batu.
Petani itupun menyesali perkataannya. Dia tak bisa berbuat banyak untuk mengembalikan kondisi kerbau yang telanjur menjadi batu.
Akhirnya, kerbau yang menjadi batu tersebut ditinggalkan begitu saja di sungai.
Dari kejadian itu, sungai setempat dinamakan Kalikebo.
Seiring perkembangan zaman, Kalikebo menjadi nama desa hingga sekarang.
Desa Kalikebo memiliki ikon berupa patung kerbau yang dibangun di salah satu sudut desa.
Desa dengan kontur geografis dataran rendah ini terdiri dari 12 dusun, yakni Kalikebo, Ngrenggodadi, Jogoiten.
Berikutnya Kujon, Sanggrahan, Bawukan, Bayemrejo, Dosaran, Brijolor, Brijokidul, Karakan, dan Mardirejo. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono