RADARSOLO.COM – Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Klaten masih tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten untuk jumlah total kasus DBD hingga pekan ke-22 pada 2024 mencapai 713 kasus. Ada pun total kematian 27 orang dengan rentang usia lima bulan hingga 54 tahun.
Atas kondisi tersebut, Dinkes Klaten belum berencana menerapkan penempelan stiker atau program stikerisasi pada rumah yang kedapatan jentik nyamuk. Tetapi lebih mengedepankan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di setiap rumah.
”Program stikerisasi memang bagus, juga salah satu inovasi yang diimbaukan dari Dinkes Pemprov Jateng. Saya selaku pribadi maupun kepala dinkes belum ada memberlakukan di Klaten,” jelas Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto, Sabtu (8/6).
Lebih lanjut, Anggit menjelaskan, apabila diterapkan program stikerisasi, maka akan ada kendala teknis. Terutama setelah nantinya dilaksanakan PSN sehingga tidak ada jentik nyamuk lagi.
”Kalau misalnya sudah tidak positif lagi (tidak ada jentik nyamuk), siapa yang mengganti stikernya? Yang (bertanggungjawab) melepas stiker siapa. Kan bisa juga, setelah stiker dilepas ada lagi jentik nyamuk, siapa yang memasang,” jelas Anggit.
Anggita menambahkan, tidak menolak inovasi yang diimbaukan dari Dinkes Pemprov Jateng tersebut. Tetapi akan menghadapi sejumlah kendala di lapangan dalam pelaksanaannya nanti.
”Dulu kami pernah menggunakan dengan memasang bendera berwarna merah di depan rumah yang terdapat jentik nyamuk. Meski lebih mudah dari pada stikerisasi, tetap pasti bakal ada kendala dalam pelaksanannya,” tambah Anggit.
Di samping itu, dia juga kurang setuju untuk menerapkan punishment ketika ditemukan kasus DBD pada suatu wilayah. Mengingat belum tentu seseorang mendapatkan gigitan dari nyamuk aedes aegpyti di kediamannya sehingga menyebabkan demam berdarah. Dia pun lebih menggencarkan gerakan PSN.
”Dari hasil evaluasi yang kami lakukan masih ditemukan jentik-jentik nyamuk. Ditandai dengan persentase yang seharusnya 95 persen bebas jentik nyamuk, kadang-kadang masih 80 persen. Bahkan di bawah 80 persen di satu wilayah. Jadi harapannya tetap dilakukan PSN sepekan dua kali,” ujar Anggit. (ren/adi)
Editor : Adi Pras