RADARSOLO.COM – Lahan pertanian seluas 333 hektare di Kabupaten Klaten mengalami gagal panen alias puso. Hal itu disebabkan terdampak kekeringan.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten telah mengambil langkah-langkah dalam mengantisipasi dampak kekeringan meluas. Kepala DKPP Klaten Widiyanti menjelaskan, gagal panen terjadi di persawahan daerah tadah hujan, terutama di daerah selatan.
”Daerah yang sudah terjadi kekeringan dan kekurangan air ada di Kecamatan Bayat dan Cawas,” jelas Widiyanti, Senin (1/7).
Data DKPP Klaten untuk wilayah yang mengalami kekeringan pada lahan pertanian, khususnya tanaman padi seluas 109 hektare dengan kondisi berat. Tersebar di tujuh desa di Kecamatan Bayat seluas 92 hektare dan dua desa di Kecamatan Pedan seluas 17 hektare.
Sedangkan tanaman padi yang mengalami gagal panen seluas 333 hekatre tersebar 10 desa di Kecamatan Bayat seluas 205 hektare. Ditambah pada empat desa di Kecamatan Cawas dengan luas sekira 149 hektare.
”Sampai saat ini kami masih pemantauan. Tetapi kami juga melakukan antisipasi dari kementerian hingga pemerintah daerah. Jadi kami memaksimalkan pompanisasi dengan memanfaatkan sumber air permukaan yang ada di sekitarnya,” jelas Widiyanti.
Dia menambahkan, di Klaten terdapat 1.361 hekatre lahan pertanian yang merupakan daerah tadah hujan. Tetapi tidak seluruhnya berhimpitan dengan air permukaan. Daerah tersebut yang mengalami kekeringan saat memasuki musim kemarau.
Ditambah air yang diandalkan untuk pengairan justru mengalami surut sehingga tidak bisa dipompa.
”Selain kami melakukan program pompanisasi, ada juga petani yang sudah menanami lahannya dengan kedelai maupun kacang hijau. Ada lah seluas sekira 115 hektare,” tambah Widiyanti. (ren/adi)
Editor : Adi Pras