RADARSOLO.COM – Memasuki puncak musim kemarau Agustus ini, sejumlah desa di wilayah langganan kekeringan mulai mengalami krisis air bersih. Di Klaten, sudah ada delapan desa meminta bantuan air bersih. Padahal pada Juli lalu, baru enam desa yang dikirim dropping air bersih.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, awalnya ada enam desa yang mengajukan permohonan dropping air bersih pada Juni-Juli. Meliputi Desa Sidorejo, Tlogowatu, Kendalsari dan Tangkil di Kecamatan Kemalang. Kemudian Desa Bandungan di Kecamatan Jatinom serta Desa Dukuh di Kecamatan Bayat.
Memasuki Agustus, terdapat tambahan dua desa yang megajukan permintaan bantuan air bersih. Meliputi Desa Jotangan, Kecamatan Bayat dan Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.
”Sudah ada delapan desa di tiga kecamatan yang mengajukan permintaan bantuan air bersih akibat kemarau. Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 374 tangki atau 1,87 juta liter hingga 15 Agustus,” ujar Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Klaten Syahruna, Minggu (18/8).
Lebih lanjut, Syahruna menjelaskan, sudah ada 4.249 keluarga atau 13.522 jiwa sebagai penerima manfaat dari kegiatan dropping air bersih yang dilakukan BPBD Klaten. Dia pun menyebut bahwa Agustus menjadi puncak kemarau.
Tahun lalu ada 26 desa di 10 kecamatan yang terdampak kekeringan. Seperti Kemalang, Bayat, Karangdowo, Jatinom, Trucuk, Karangnongko, dan Gantiwarno.
Disinggung terkait ketersediaan atau stok untuk bantuan air bersih, Syahruna memastikan masih mencukupi hingga akhir kemarau.
Syahruna menyebutkan, selain mengandalkan APBD, juga ada dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun dari kegiatan corporate social responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan.
”Dari BNPB juga siap dengan dana siap pakai. Jadi tidak khawatir karena stoknya banyak. Belum lagi bantuan dari kalangan swasta,” ujar Syahruna.
Syharuna menjelaskan, bantuan yang disiapkan tak hanya air bersih saja. Tetapi telah mendapatkan dukungan bantuan dari BNPB berupa bak penampungan air. Saat ini sudah ada tiga bak penampungan yang telah ditempatkan di wilayah lereng Gunung Merapi.
”Saat ini kami masih melakukan survei terutama di lereng Merapi (untuk penempatan bantuan bak penampungan). Tujuan agar warga yang ingin memanfaatkan air bersih tidak terlalu jauh mengambilnya,” jelas Syahruna. (ren/adi)
Editor : Adi Pras