RADARSOLO.COM - Ada pemandangan menarik ketika berkunjung ke Desa Gombang, Kecamatan Cawas, Klaten.
Terutama saat menyusuri jalan desa setempat akan melihat warga sedang menenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di teras rumah.
Mereka yang melakukan adalah perempuan yang sudah lanjut usia. Tampak mereka begitu terampil dalam menenun menggunakan ATBM yang mengeluarkan suara kayu yang saling beradu.
Aktivitas menenun di teras rumah itu bisa ditemui di Dusun Karangjati. Tampak sejumlah ibu-ibu tengah mengoperasikan ATBM untuk menghasilkan tenun lurik di depan rumahnya masing-masing.
Salah satu warga yang setia menenun dengan ATBM yakni Kardiyem, 60. Setiap harinya sudah memulai menenun sejak pukul 08.00. Dia sudah melakukan aktivitas menenun tersebut selama puluhan tahun.
“Sebenarnya saya menenun ini untuk mengerjakan bahan yang diberikan dari juragan. Dalam sehari bisa menghasilkan 10-15 meter,” ujar Kardiyem saat ditemui radarsolo.com beberapa waktu lalu.
Dia menceritakan, pekerjaan menenun itu sudah ditekuninya sejak masih muda saat berusia 20 tahun. Terlebih lagi aktivitasnya menenun di teras rumah itu juga mendapatkan dukungan penuh dari sang suami hingga saat ini.
Kardiyem mengungkapkan, bahwa dahulunya banyak perajin tenun lurik di Desa Gombang. Bahkan hampir setiap teras rumah di desa tersebut tampak warga mengoperasikan ATBM. Terutama setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
“Kalau dulu setiap rumah itu ada ATBM-nya. Tetapi dikarenakan tidak bisa masuk ke dalam rumah sehingga diletakan di luar. Soalnya ukurannya yang besar,” ujar Kardiyem.
Jumlah perajin tenun lurik di Desa Gombang terus mengalami penurunan yang kini hanya tinggal 20-an orang saja.
Disebabkan adanya pandemi Covid-19 hingga membuatnya sepinya penjualan kain saat itu. Hal itu membuat perajin lantas beralih profesi sehingga hanya menyisakan beberapa perajin lurik tenun di desa tersebut.
“Saya meneruskan ini, ya selain karena untuk mengisi waktu tua juga untuk melestarikan budaya,” ujar Kardiyem.
Warga lainnya yang juga perajin tenun, Ngadinah, 60, juga tergerak untuk meneruskan tradisi yang ada di desanya tersebut. Bahkan dirinya tengah sibuk mengerjakan kain tenun lurik sepanjang puluhan meter menggunakan ATBM di teras rumahnya.
“Kalau saya dalam sehari bisa menenun 8-10 meter, saya kerjakan dari Pukul 10.00. Ketika sudah ada waktu luang, setelah selesai mengerjakan tugas rumah,” ujar Ngadinah. (ren/adi)
Editor : Adi Pras