Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

220 Siswa Antusias Lomba Melukis Payung, Bertemakan Wayang Topeng Dalang Klaten

Angga Purenda • Jumat, 4 Oktober 2024 | 02:48 WIB
Lomba lukis payung yang diikuti 220 siswa di Monumen Juang 45 Klaten, Kamis (3/10/2024). (Angga Purenda/Radar Solo)
Lomba lukis payung yang diikuti 220 siswa di Monumen Juang 45 Klaten, Kamis (3/10/2024). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten menggelar lomba melukis payung di Monumen Juang 45 Klaten pada Kamis (3/10/2024). Diikuti 220 siswa SD perwakilan 26 koordinator wilayah (Korwil) pendidikan di Klaten.

Menariknya, lomba kali ini tak hanya melestarikan payung lukis Juwiring yang ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTb) pada 2022. Tetapi juga wayang topeng dalang yang menjadi objek utama untuk dilukis pada media payung.

Wayang topeng dalang Klaten sendiri resmi ditetapkan jadi WBTb oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) pada tahun ini. Maka itu, lomba melukis payung kali ini mengangkat tema Mbeber Topeng Klaten.

”Lomba melukis payung ini, kami gelar setiap tahunnya. Dalam upaya untuk melestarikan WBTb yang ada di Klaten. Pesertanya adalah seluruh siswa SD, setiap korwil mengirimkan setidaknya delapan sampai sembilan peserta,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudporapar Klaten Maria Yakuba Setya Ari Sajati, Kamis (3/10/2024).

Maria mengungkapkan, terkait penggunaan alat lukis, peserta dibebaskan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Hanya saja pihaknya telah menyediakan payung lukis tersebut. Payung itu terbuat dari kertas yang sudah dilapisi cat anti air. Sehingga bisa digunakan untuk media melukis.

Ada pun terkait kriteria penilai pada lomba melukis payung tersebut yakni kesesuaian dengan tema. Kemudian gambar, warna dan realisasi lukisan topeng dengan imajinasi setiap peserta lomba.

”Untuk tim juri kami datangkan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan ISI Yogyakarta. Jadi memang independen, kami harapkan dengan adanya karya budaya seperti ini, menjadikan ISI Surakarta dan Yogyakarta bisa mengambil hal-hal positif yang bisa kita kerja samakan pada bidang seni dan budaya,” ujar Maria.

Salah seorang peserta, Aisyiah, 11, dari SD Muhammadiyah Bayat menjelaskan, pada perlombaan tersebut menggunakan cat arkilik. Termasuk menyemprotkan pilox pada media payung yang dilukis.

”Saya tertarik ikut serta lomba ini. Terutama untuk topeng dalangnya, saya baru tahu ini. Harapannya bisa ikut serta untuk nguri-nguri budaya,” ujar Aisyiah. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #ISI Yogyakarta #Disbudporapar #Payung Lukis Juwiring #isi surakarta #payung #lomba melukis #Monumen Juang 45 Klaten #warisan budaya tak benda #wayang topeng