RADARSOLO.COM – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) ternyata tidak hanya berimbas pada peternak sapi, tetapi juga pedagang kambing di Klaten.
Dikarenakan pasar hewan menjadi sepi pembeli. Hal itu berakibat minimnya transaksi hingga anjloknya harga kambing saat ini.
Salah satu pedagang kambing, Hari, 53, asal Kecamatan Bayat, Klaten mengaku adanya PMK menjadikan penjualannya turun. Hal itu sudah terjadi secara bertahap sejak Desember 2024.
”Sebelum ada PMK setiap kali pasaran di Pasar Hewan Prambanan bisa menjual 10 ekor sampai 13 ekor kambing. Tetapi setelah ada PMK ini hanya bisa menjual empat ekor sampai enam ekor kambing saja,” ujar Hari saat ditemui Radarsolo.com di Pasar Hewan Prambanan, Klaten, Kamis (30/1/2025).
Hari mengungkapkan, menurunnya penjualan karena pembeli di Pasar Hewan Prambanan mulai berkurang. Hal itu seiring dengan menurunnya jumlah sapi yang diperjualbelikan. Tetapi juga berimbas ke penjualan kambing.
Bahkan sudah mempengaruhi harga jual kambing miliknya. Dari sebelumnya bisa menjual Rp 3 juta per ekor, sekarang menjadi Rp 2,5 juta per ekor. Untuk jenis lainnya, dari Rp 1,5 juta ekor menjadi Rp 1,2 juta per ekor.
”Memang harganya mengalami penurunan, tetapi hanya turun sedikit saja. Beda dengan sapi yang harganya bisa turun banyak. Terutama kalau sudah ada gejala PMK,” tambah Hari.
Penanggungjawab Pasar Hewan Prambanan untuk kambing, Agus Wijarnoko mengungkapkan, jumlah kambing yang diperjualbelikan setiap kali pasaran antara 200 ekor hingga 250 ekor. Jumlah tersebut tetap stabil baik sebelum maupun sesudah ada PMK.
”Kalau untuk harganya memang ada pengaruhnya. Tapi hanya penurunan sedikit saja,” ujar Agus.
Pemantauan terhadap kambing dan sapi yang diperjualbelikan di Pasar Hewan Prambanan terus dilakukan. Hal itu untuk meminimalisir hewan terinfeksi PMK saat dibawa ke pasar hewan. (ren/adi)
Editor : Adi Pras