RADARSOLO.COM – Korban dugaan keracunan di Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, terus bertambah. Hingga Selasa (15/4/2025) siang pukul 12.00, tercatat sudah ada 127 orang yang diduga keracunan.
Jumlah ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan pendataan pada pagi hari yang mencatatkan 110 orang.
Berdasarkan data yang diperoleh RadarSolo.com dari BPBD Klaten, terdapat 46 orang yang dirujuk di sejumlah fasilitas kesehatan (Faskes), Berikut rinciannya:
- 22 orang dirawat di RSUD Bagas Waras Klaten.
- 10 orang dirawat di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, meskipun satu orang sudah pulang.
- 5 orang dirawat di Rumah Sakit Cakra Husada (RSCH) Klaten.
- 8 orang dirawat di Puskesmas Gantiwarno.
- 1 orang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.
Menurut Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Syahruna, korban-korban ini mengalami gejala diare, muntah, dan demam tinggi.
"Dari hasil penyelidikan epidemiologi, terdata ada 127 orang yang mengalami gejala tersebut," ujar Syahruna saat ditemui pada Selasa (15/4/2025) siang.
Sayangnya, satu orang dinyatakan meninggal dunia pada Senin (14/4/2025) malam di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Korban yang meninggal dunia adalah Suparno yang berusia 72 tahun.
"Korban meninggal dunia karena memiliki kelainan jantung (komorbid). Meskipun sudah dilakukan upaya pacu jantung, namun korban akhirnya meninggal," tambah Syahruna.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, ratusan warga Desa Karangturi, Gantiwarno diduga keracunan setelah menyantap makanan yang disajikan dalam kemasan kardus pada pagelaran wayang kulit pada Sabtu (12/4/2025) malam.
Sejak Minggu (13/4/2025), banyak warga yang mulai merasakan gejala seperti mual, muntah, diare, demam tinggi, dan dehidrasi.
Seiring berjalannya waktu, korban terus bertambah hingga 127 orang pada Selasa (15/4/2025) siang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klaten telah mendirikan posko kesehatan di lokasi untuk melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap korban keracunan. Para korban yang teridentifikasi telah mendapat penanganan medis intensif dari tenaga medis.
"Kami terus melakukan observasi dan penanganan terhadap para korban. Kami juga mengirimkan sampel makanan ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar Syahruna. (ren)
Editor : Damianus Bram