RADARSOLO.COM – Ratusan warga Kecamatan Pedan menggeruduk Kantor Bupati Klaten pada Rabu (14/5/2025) siang.
Mereka berasal dari Desa Troketon, Kalangan dan Kaligawe yang menyuarakan berbagai permasalahan yang timbul dari aktivitas di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Troketon.
Tampak warga lainnya yang tergabung Aliansi Masyarakat Klaten Peduli TPA Troketon dan mahaiswa ikut dalam aksi tersebut.
Mereka membawa berbagai spanduk yang bertuliskan “Klaten Bersampah, Sampah Bukan Warisan Anak Cucu dan Klaten Darurat Sampah”.
Aksi demo itu langsung ditemui Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto.
Mereka diterima di Gedung Rapat Paripurna DPRD Klaten untuk menyampaikan berbagai keluhan dan tuntutan.
”Dari sisi ekonomi, kesehatan dan lingkungan (dampaknya) sangat luar biasa. Belum juga dampak sosial lainnya seperti harga tanah menjadi anjlok. Maka itu kami warga Klaten menyuarakan tata kelola sampah harus ditindaklanjuti,” ujar Koordinasi Lapangan Aksi Demo Marwan Kholil, Rabu (14/5).
Marwan mengungkapkan, permasalahan yang timbul seperti bau tidak sedap, munculnya lalat hingga lindi yang mencemari lingkungan sekitar.
Terlebih lagi berdekatan dengan permukiman warga yang jaraknya kurang dari 500 meter sehingga terdampak secara langsung.
Atas kondisi itu, pihaknya menagih janji Pemkab Klaten untuk memilah dan memproses sampah di TPA Troketon.
Sampah diolah untuk meningkatkan UMKM masyarakat hingga yang organik akan dijadikan pupuk dan dibagikan gratis kepada masyarakat.
”Tetapi apa yang terjadi, itu semua hanya isapan jempol. Tidak ada buktinya sama sekali. Terlebih lagi yang miris bahwa TPA dijadikan bisnis gelap dengan menerima sampah-sampah dari luar daerah seperti Yogyakarta dan Sukoharjo. Masuk ke TPA Troketon dengan membayar Rp 700 ribu untuk satu truknya,” ujar Marwan.
Pihaknya meminta pemkab untuk segera menindaklanjuti terkait tata kelola sampah agar Klaten menjadi Bersinar (Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman dan Rapi).
Salah seorang warga Pengkol, Kaligawe, Pedan, Dhabiri, secara kasat mata dampak yang dirasakan langsung adalah bau sampah. Hal itu terjadi sejak pagi hari.
”Jadi kita itu selagi bangun tidur mata terbuka, itu sudah mencium bau sampah yang sangat menyengat. Kemudian lalatnya cukup banyak sampai kami tidak berani membuka pintu. Tidak berani duduk di teras rumah karena lalatnya cukup banyak,” ujar Dhabiri.
Dhabiri mengungkapkan, jarak kediamannya dengan TPA Troketon hanya sekira 200 meter saja. Hal itu yang membuat keluarganya mengalami gangguan bau tidak sedap hingga banyaknya lalat. Termasuk tetangganya juga merasakan hal yang sama.
“Memang sudah ada petugas yang melakukan penyemprotan (terhadap tumpukan sampah) tetapi tidak optimal. Soalnya lalatnya masih cukup banyak,” ucapnya.
Di sisi lain, lahan yang dimilikinya berdekatan dengan TPA Troketon tidak ada minat yang membeli. Meski sudah dibandrol dengan harga Rp 100 ribu per meter persegi sekalipun. Mengingat dampak sampah dari TPA yang ditimbulkan. (ren/adi)
Editor : Adi Pras