RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten meminta masyarakat untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing. Hal ini menyusul masih tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bersinar.
Berdasarkan data dari dinkes hingga sampai minggu ke-18 pada 2025 ini terdapat 288 kasus. Sedangkan yang meninggal dunia akibat DBD terdapat tiga orang.
Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu mengalami penurunan. Dikarenakan sebelumnya terdapat 477 kasus dengan 23 orang meninggal dunia akibat DBD.
”Memang terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Tapi kalau saya masih mengkategorikan tinggi. Untuk kasus yang meninggal dunia ini anak-anak,” ujar Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto kepada Radarsolo.com, beberapa waktu lalu.
Anggit menjelaskan, sebaran kasus DBD di sejumlah kecamatan yang salah satunya Klaten Selatan. Hal itu dipengaruhi banyaknya rumah kosong yang tidak dihuni.
Sehingga kurangnya perhatian lingkungan sekitarnya. Terutama adanya penampungan air bersih yang lepas dari pengawasan dan menjadi sarang nyamuk.
”Semoga kedepan tidak ada air pada penampungan yang menjadi tempat berkembangnya nyamuk aedes aegypti. Hanya saja yang membuat orang terlena itu ketika tetangganya kosong, sehingga kurangnya kontrol pada lingkungannya,” tambah Anggit.
Anggit menjelaskan, hal yang perlu diwaspadai bahwa jentik nyamuk sekarang sudah bisa membawa penularan tanpa melewati gigitan terlebih dahulu. Maka itu, dinilai berbahaya jika sampai berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Menurutnya, perlu digalakan kembali untuk gerakan PSN di kediaman masing-masing. Termasuk di sekitar lingkungan rumah untuk memastikan tidak ada tempat yang berpotensi menjadi berkembangnya sarang nyamuk.
”Ada maupun tidak ada kasus, PSN itu penting. Tapi ya jangan seminggu sekali saja, setidaknya melakukan gerakan PSN dua kali dalam seminggu. Sedangkan untuk Juru Pemantau Jentik (Jumantik) tetap jalan terus,” ujar Anggit.
Di sisi lain, Anggit meminta masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Terutama untuk menerapkan pola makan gizi dan seimbang dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) hingga melakukan aktivitas olahraga.
”Jangan sampai menjadi dehidrasi selama musim peralihan ini. Jadi jangan sampai terlena, karena jarang minum,” tandasnya. (ren/adi)
Editor : Adi Pras