Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Diduga Terpapar PMK, Sembilan Ekor Sapi Kurban di Karangnongko Klaten Mati: Rencana untuk Kurban

Angga Purenda • Rabu, 4 Juni 2025 | 00:15 WIB
Sapi yang mati di kandang, Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten. (Dokumentasi Pribadi)
Sapi yang mati di kandang, Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten. (Dokumentasi Pribadi)

RADARSOLO.COM – Sebanyak sembilan ekor sapi di Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten mati yang diduga terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Atas peristiwa itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten telah mengambil sejumlah langkah untuk meminimalisir merebaknya virus tersebut jelang Idul Adha.

“Kami sudah menurunkan tim dari pusat kesehatan hewan (Puskeswan) di Karangnongko. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, itu milik pedagang sapi,” ujar Kepala DKPP Klaten Iwan Kurniawan saat ditemui di kantornya, Senin (2/6/2025).

Iwan menjelaskan, terkait kronologinya berawal ketika pedagang sekaligus peternak membeli sapi dari Pasar Jelok Kabupaten Boyolali pada 15 Mei 2025. Saat itu, sapi langsung dimasukan dalam kandang bersamaan dengan sapi lainnya tanpa melalui proses karantina terlebih dahulu.

“Tapi mungkin padatnya penjualnnya mendekati Idul Adha sehingga dicampur. Sapi yang dibeli itu ternyata belum ada keterangan vaksin dari Boyolali sehingga pada hari berikutnya 25 Mei 2025 menghubungi petugas kesehatan Klaten untuk diberikan vaksin,” ujar Iwan.

Iwan mengungkapkan, ternyata sapi yang dibeli pedagang itu diduga sudah terpapar PMK. Hingga akhirnya menyebar ke sapi lainnya.

Total ada tujuh ekor sapi yang mati di kandang, dua ekor lainnya disembelih paksa karena kondisi dikhawatirkan akan mati sehingga total ada sembilan ekor.

Dia menyebut, tim dari Puskeswan sudah mengambil langkah dengan melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang. Total ada tiga kandang milik pedagang tersebut dengan jumlah keseluruhan terdapat 23 ekor sapi.

“Kalau vaksin sendiri di Klaten dari bantuan terdapat 3.000. Tetapi yang dilakukan vaksinasi di Karangnongko sudah 750 ekor. Jadi sapi terpapar itu yang berasal dari luar Klaten,” ujar Iwan.

Diakui Iwan untuk memantau lalu lintas ternak jelang Idul Adha. Terlebih lagi pembelian dilakukan di luar daerah yang langsung dibawa ke kandang. Hal itu menjadikan sapi yang terbeli itu tidak terpantau oleh petugas.

“Kalau memang itu jual beli dilakukan di pasar akan dilaksanakan pengecekan kesehatan. Dari petugas akan memberikan surat keterangan sehat, yang menyatakan sapi itu layak dijadikan hewan kurban,” ujar Iwan.

Iwan menjelaskan, sampai hari ini belum ada laporan yang masuk terkait dugaan terpapar PMK di Klaten selain di wilayah Gemampir, Karangnongko. Pihaknya akan segera memperbarui data untuk selanjutnya diambil langkah pencegahan.

“Kami sudah perketat lalu lintas di Pasar Hewan Prambanan dan Jatinom, dengan menurunkan petugas di sana. Setiap saat kami melakukan monitoring dan evaluasi,” ujar Iwan.

Sementara itu, pedagang dan peternak asal Gemampir, Karangnongko, Adi, 41, menjelaskan bahwa sebelum mati telah memperlihatkan sejumlah gejala awal seperti mengeluarkan lendir dari mulutnya. Terlebih lagi sapinya juga tidak mau minum.

“Jadi dari mulai tidak minum itu, lalu pada Pukul 02.00 langsung mati. Lalu subuhnya juga mati. Tapi sebelumnya kami sudah berusaha untuk melakukan vaksinasi terhadap seluruh sapi,” ujar Adi.

Adi mengungkapkan, akibat sembilan ekor mati tersebut, dirinya mengalami kerugian sekira total Rp 190 juta. Meski begitu, dirinya bertanggungjawab penuh terhadap sapi kurban mati yang sudah dibeli itu dengan menukar sapi miliknya secara utuh. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#karangnongko #Boyolali #idul adha #klaten #Penyakit Mulut dan Kuku #puskeswan #PMK