RADARSOLO.COM - Hamparan sawah di Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten membentuk pola sebuah tulisan.
Berisikan ucapan Selamat Hari Jadi ke-221 Klaten. Begitu juga di sebelahnya bertuliskan tema hari jadi Klaten yakni Hangesti Tejaning Jati.
Tulisan itu terbentuk dari tanaman padi pada lahan persawahan seluas 1.700 meter persegi. Senin (28/7/2025) depan merupakan momentum hari jadi dari Kota Bersinar ke-221.
Terciptanya seni lukis sawah atau disebut tanbo art itu tidak bisa dilepaskan dari sosok petani muda dari desa setempat. Dia bernama Prihatnyo Ruli Hermawan, 38.
Dia membentuk pola tulisan tersebut dengan mengandalkan dua varietas tanaman padi yang ditanam pada hamparan sawah tersebut.
Yakni Black Madras dengan warna daun dan batangnya ungu tua. Begitu juga menggunakan tanaman padi varietas Cibatu yang memiliki daun dan batang bewarna hijau.
Kedua varietas yang telah disusun pada satu hamparan sawah tersebut akan membentuk tulisan jika dilihat dari atas.
Dia menyebut, jika idenya membentuk pola tulisan itu muncul secara spontan saat desanya kedatangan mahasiswa KKN.
”Sebenarnya bukan direncanakan di awal karena ini incidental. Tapi tiba-tiba ada teman-teman KKN yang datang kemudian kami berdiskusi proyek apa yang bis akita kerjakan. Akhirnya kami sepakat untuk membentuk pola seperti ini karena lebih mudah dikerjakan,” ujar Ruli saat ditemui di lahan persawahannya, Selasa (22/7/2025).
Lebih lanjut, Ruli menjelaskan, dalam membentuk pola tulisan itu memanfaatkan dua varietas padi yang sebelumnya ditanam dan berumur 10 minggu. Untuk teknisnya pihaknya mengukur dimensi terlebih dahulu.
“Kemudian kami sumulasikan di kertas. Lalu kami sesuaikan ukuran ideal di sawah. Teknisnya kami cabuti dulu pada yang bewarna ungu dan hijau. Lalu kami ganti dengan mempertimbangkan pada ukuran serta jumlah baris pada eksisting di sawah,” jelas Ruli.
Dalam membentuk pola itu, Ruli dibantu dengan 12 mahasiswa KKN UIN Raden Mas Said Surakarta.
Untuk prosesnya dari mulai mengukur lahan, mensimulasikan hingga pemindahan tanaman padinya membutuhkan waktu 10 hari.
Pembentukan pola tulisan tersebut, selain untuk memeriahkan Hari Jadi ke-221 Klaten juga ingin memberikan pesan kepada anak muda bahwa pertanian itu menarik. Mengajak mereka untuk bertani.
”Kami ingin memberikan contoh ke generasi muda bahwa bertani itu seru. Apalagi dengan membudidayakan padi seperti ini (Black Madras) mempunyai nilai ekonomi yang tinggi ketimbang padi yang biasa,” ujar Ruli.
Sementara itu, untuk hasil panen padinya yang akan berlangsung satu bulan lagi, Ruli menjelaskan, untuk padi varietas Cibatu akan dijual lagi.
Sedangkan untuk varietas Black Madras akan disimpan dan digunakan untuk benih pada tanaman selanjutnya.
Salah satu mahasiswa UIN Raden Mas Said, Hanifah, 20, mengaku baru pertama kali terjun langsung ke sawah. Terlebih lagi merasakan langsung untuk bercocok tanam.
”Sebelumnya, belum pernah sama sekali. Terus pas nyemplung awalnya takut karena kan dalam banget. Ternyata seru, jadi pengalaman pertama menanam padi,” ujar Hanifah yang merupakan mahasiswa Fakultas Syariah ini. (ren/adi)
Editor : Adi Pras