Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Suarakan Hak Anak, Forum Silaturahmi Sanggar Tari Klaten Gelar Pentas Bertajuk Obah Bareng

Angga Purenda • Selasa, 25 November 2025 | 00:39 WIB
Pementasan salah satu sanggar tari di Pendapa Bangsal Sunan Geseng Masjid Al Karim, Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan. (Angga Purenda/Radar Solo)
Pementasan salah satu sanggar tari di Pendapa Bangsal Sunan Geseng Masjid Al Karim, Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Forum Silaturahmi Sanggar Tari Klaten (FSSTK) menggelar pementasan tari kolosal bertajuk Obah Bareng. Acara tersebut dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia 2025.

Pementasan yang melibatkan sembilan sanggar tari utama di Klaten itu sukses digelar di Pendapa Bangsal Sunan Geseng Masjid Al Karim, Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan, Minggu (23/11).

Ketua FSSTK Muhammad Qowim menjelaskan, pergelaran tersebut merupakan komitmen para pegiat seni tari di Klaten menyuarakan hak-hak anak melalui ranah budaya.

Hal ini sejalan dengan tagline Hai Anak Sedunia 2025 dari UNICEF, My Day My Right, FSSTK meyakini bahwa memuliakan anak-anak berarti memuliakan masa depan kebudayaan.

”Kami seluruh penari dan sanggar yang tergabung dalam FSSTK semuanya bergerak. Untuk menyatakan bahwa anak-anak Indonesia adalah bagian dari anak-anak dunia. Meyakini bahwa masa depan kebudayaan manusia ada di tangan anak-anak,” ujar Qowim saat ditemui Radarsolo.com, Minggu (23/11/2025).

Qowim menambahkan, pesan utama dari pementasan itu ditujukan kepada pemerintah dan dunia agar memuliakan anak-anak. Begitu juga memenuhi hak-hak anak, termasuk hak berkesenian.

Selain perayaan Hari Anak Sedunian, pementasan tari bertajuk Obah Bareng itu juga menjadi momentum untuk menyuarakan dua tantangan utama yang dihadapi para seniman dan sanggar tari di Klaten.

”Pentingnya mengubah pandangan bahwa tari bukan hanya kesenian semata, tetapi juga pasar yang dapat memberikan penghasilan bagi para pekerja seni profesional. Tetapi ekosistem bisnis ini tidak bisa dibangun hanya sepihak saja,” ujar Qowim.

Lewat acara itu pula, FSSTK berharap masyarakat Klaten mulai melangkah untuk membangun identitas budaya yang khas. Harapannya, seniman Klaten kelak akan bangga menyebut “Langgam Klaten”.

”Bukan lagi langgam Surakarta atau Yogyakarta. Identitas budaya ini tidak bisa dibangun instan. Kita perlu menanam sejak awal, anak-anak harus kita libatkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Qowim juga menyampaikan harapannya agar sanggar tari yang lebih mapan dapat ikut serta mendukung dan membina sanggar tari kecil di seluruh Klaten. Sebaliknya, sanggar yang belum bergabung di dorong untuk tidak sungkan dan bersama-sama membangun kebudayaan Klaten serta ekosistem industri tari.

Salah satu sanggar yang bersemangat menyambut momentum tersebut adalah Sanggar Tari Omah Ayuku. Sang pemilik sanggar yakni Heni Rahayu yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia Obah Bareng mengungkapkan kebahagian dapat bergabung dalam pementasan.

”Kami mempersembahkan dua tarian yaitu Tari Merak Sutra dan Tari Denok Deblong dengan membawa 14 penari,” ujar Heni.

Menurut Heni, panggung terbuka seperti Obah Bareng adalah sarana penting untuk perkembangan siswa. Ia menekankan bahwa latihan rutin di sanggar perlu diimbangi dengan pengalaman tampil di hadapan publik.

”Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sanggar adalah bagaimana mempertahankan minat anak-anak agar tetap mencintai seni tari. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan ruang tampil secara teratur,” ujar Heni. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #hari anak sedunia #jogonalan