RADARSOLO.COM – Puluhan pemandu wisata asal Klaten mengikuti uji kompetensi yang digelar oleh Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPC HPI) Kabupaten Klaten, Kamis (27/11/2025).
Sekretaris DPC HPI Klaten Arifudin Latif menjelaskan, uji kompetensi ini untuk memperbarui masa berlaku sertifikasi para pemadu wisata di Kota Bersinar.
Mengingat sertifikasi terakhir yang dikeluarkan pada 2022 untuk masa berlakunya telah berakhir pada 2025 ini.
”Ada 30 peserta yang ikut serta dalam uji kompetensi ini. Para peserta diuji dalam dua kategori kompetensi yaitu pemandu overland dan lokal guide. Kalau overland itu bisa sampai luar kota, sedangkan lokal guide hanya di satu tempat tersebut saja,” ujar Arif saat ditemui Radarsolo.com, Kamis (27/11/2025).
Arif menambahkan, dalam uji kompetensi, mayoritas peserta merupakan lokal guide yang berasal dari kawasan Candi Prambanan.
Diharapkan melalui tahapan tersebut dapat memastikan kualitas dan kecakapan para pemandu wisata di wilayah Klaten.
Kecakapan yang diuji yakni etika, kemampuan menangani atau membawa dan penguasaan bahasa.
Meski begitu, Arif mengakui masih banyak pemandu yang belum memiliki kesadaran untuk mengikuti uji kompetensi. Mengingat merasa sudah mampu tanpa perlu legalitas.
”Uji kompetensi ini penting untuk memastikan bahwa semua pemandu bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku,” tambah Arif.
Di sisi lain, Arif menjelaskan, sertifikasi kompetensi tersebut menjadi langkah awal yang krusial bagi para pemandu wisata.
Setelah dinyatakan kompeten, proses dilanjutkan untuk pengajuan Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata (KTPP) dan Kartu Tanda Anggota (KTA) HPI kepada Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
”Memiliki sertifikasi dan KTPP/KTA sangat penting. Kita ibaratkan sebagai Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi seorang pemandu wisata,” ujar Arif.
Kepala Bidang (Kabid) Parwisata Disbudporapar Klaten Dwi Murwanti mengharapkan para pemandu wisata sebagai wajah daerah bisa ikut serta dalam mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif.
”Para pemandu wisata diharapkan bisa menjadi mitra strategis mitra pemerintah daerah dalam mempromosikan, mengelola dan memajukan pariwisata di Klaten,” ujar Dwi.
Salah satu peserta uji kompetensi, Aris Maryanto, 41, asal Geneng, Kecamatan Prambanan mengaku keikutsertaannya karena masa berlaku dari sertifikasinya akan berakhir sehingga perlu diperbarui.
”Karena lisensinya mau berakhir ya, apalagi saya overland dari sini bisa ke Kalimantan hingga Sulawesi. Kebetulan saya tour guide-nya, dan kebetulan kalau di Kalimantan saya menjadi tour leader,” ujar Aris yang selama ini melayani wisatawan berbahasa Jerman. (ren/adi)
Editor : Adi Pras