RADARSOLO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klaten secara resmi menetapkan tuberkulosis (TBC) dan leptospirosis sebagai penyakit menular yang sangat membutuhkan perhatian serius. Terlebih lagi dibutuhkan penanganan lintas sektor.
Penegasan itu disampaikan dalam sebuah sosialisasi yang bertujuan memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian di wilayah Klaten.
Hal ini yang membuat dinkes gencar melakukan sosialisasi penyakit menular.
Seperti yang dilaksanakan pada Selasa (2/12/2025) di Pendapa Pemkab Klaten yang menghadirkan ratusan peserta.
Mereka dari perwakilan Puskesmas, TP PKK hingga organisasi kemasyarakatan untuk mendapatkan penjelasan terkait dua penyakit menular tersebut dari narasumber yang dihadirkan.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Klaten Hanung Sasmito Wibowo.
Dia mengungkapkan, data 10 tahun terakhir menunjukan lonjakan kasus Leptospirosis yang mengkhawatirkan.
“Dimana 10 tahun terakhir ini kasus leptospirosis memang tertinggi. Bisa mencapai 133 kasus dan 22 orang di antaranya meninggal dunia,” ujar Hanung.
Lebih lanjut, Hanung mengungkapkan, berbeda dengan leptospirosis yang angkanya melonjak, masalah utama pada TBC di Klaten adalah rendahnya penemuan kasus.
Hal itu mengindikasikan bahwa penyakit tersebut masih merebak dan banyak yang belum terdeteksi.
Hanung merinci bahwa penemuan kasus TBC sensitif obat masih jauh dari target, yakni baru mencapai 1.509 kasus dari target 2.433 kasus.
Sementara itu, penemuan kasus TBC Resisten Obat (RO) mencapai 15 kasus dari 71 yang ditargetkan.
Kemudian TBC dengan HIV terdapat 48 kasus dan TBC anak 234 kasus
“Penemuan kasus TBC masih sangat rendah sehingga kita berupaya bersama-sama dengan lintas sektoral atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya. Untuk bagaimana caranya menganggulangi TBC,” ujar Hanung.
Meskipun Treatment Success Rate (tingkat keberhasilan pengobatan) cukup baik di angka 82,74 persen.
Hanung menyoroti tingginya angka kematian terkait TBC yang mencapai 74 kasus.
"Itu karena terjadi loss to follow up. Jadi pasien itu melarikan diri dan memutus pengobatan," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa untuk kasus TBC dan HIV/AIDS, pengobatan tidak boleh terputus.
Putusnya pengobatan adalah penyebab utama tingginya angka kematian dan berpotensi memicu resistensi obat yang lebih sulit ditangani.
Di sisi lain, Hanung menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mencapai target yang lebih tinggi.
"Jika bisa, seperti yang disampaikan oleh bupati, untuk kita minimalisir supaya Klaten ini bisa terwujud Klaten yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan." ujar Hanung.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan bahwa kunci utama dalam pencegahan penyakit menular adalah sosialisasi yang masif dan tepat sasaran.
Termasuk secara khusus menyoroti pentingnya peran serta masyarakat dan organisasi kemasyarakatan dalam menyebarluaskan informasi kesehatan.
“Sosialisasi ini akan berguna bagi para peserta, jadi benar-benar harus didengarkan apa yang disampaikan oleh narasumber. Harapannya informasi ini tidak berhenting di panjenengan, tapi kemudian digetoktularkan kepada keluarga, kepada tetangga sekitar, kepada rekan-rekan organisasi dan kepada masyarakat,” jelas Hamenang.
Lebih lanjut, Hamenang menegaskan, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati sebagai kata kunci dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.(ren/adi)
Editor : Adi Pras