Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dana Desa Wunut Klaten Terjun Bebas, Pengembangan Wisata hingga THR untuk Warga Dipastikan Jalan Terus

Angga Purenda • Senin, 12 Januari 2026 | 18:17 WIB
Umbul Gedhe di Desa Wunut, Kecamatan Tulung jadi destinasi wisata air yang terus dikembangkan. (Angga Purenda/Radar Solo)
Umbul Gedhe di Desa Wunut, Kecamatan Tulung jadi destinasi wisata air yang terus dikembangkan. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Pemangkasan dana desa (DD) secara besar-besaran membatasi ruang gerak pemerintah desa (pemdes) dalam berinovasi. Salah satunya Pemdes Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten yang selama ini dikenal dengan kemandiriannya.

”Dulu alokasi (DD) kami mencapai sekira Rp 1 miliar. Sekarang, dapatnya termasuk yang paling sedikit, nomor dua dari bawah (se-Kecamatan Tulung), sekitar Rp 287 juta. Jadi berkurangnya hampir Rp 800 juta sendiri,” ujar Kepala Desa (Kades) Wunut Iwan Sulistya Setiawan, beberapa waktu lalu.

Penurunan yang mencapai lebih dari 60 persen itu diakui Iwan sangat berdampak pada perencanaan pembangunan yang telah disusun.

Salah satunya sektor pembangunan infrastruktur dan pengembangan objek wisata Umbul Gedhe yang baru saja diresmikan dan dibuka untuk wisatawan.

Iwan menyebut awalnya telah menganggarkan hampir Rp 500 juta untuk memulai pengembangan kawasan wisata tersebut.

”Harapan kami begitu anggaran turun langsung start (mulai). Tapi dengan angka yang turun signifikan ini, ya kita tahu diri dulu. Pembangunan fisik yang direncanakan tahun ini otomatis tidak bisa berjalan maksimal,” ujar Iwan.

Selain wisata, rencana pembangunan kawasan ketahanan pangan seperti peternakan dan perikanan terpadu juga ikut terancam. Iwan menilai saat ini desa tidak lagi memiliki keleluasaan dalam mengelola anggaran.

Penggunaan sisa dana desa yang ada sudah dipatok secara kaku oleh pemerintah pusat untuk program-program tertentu. Seperti penanganan stunting, posyandu dan ketahanan pangan.

”Sudah tidak ada otonomi desa lagi. Perencanaan yang sudah dibuat di musrenbangdes seolah dipangkas habis. Anggaran yang turun sudah ada untuk penggunaannya. Memang lebih aman bagi desa, tapi kalau ingin maju dan berkembang ya susah,” tegasnya.

Meski DD dipangkas habis-habisan, Iwan berkomitmen untuk tetap menjalankan program strategi desa yang menyentuh langsung kepentingan warga. Seperti BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan hingga santunan sosial.

Pemdes Wunut akan memaksimalkan pendapatan dari BUMDes Wunut yang saat ini mengelola dana sekitar Rp2 miliar untuk berbagai kegiatan sosial dan ekonomi.

”Program strategi desa seperti BPJS tidak mungkin kita hilangkan. Kita akan optimalkan hasil BUMDes. Pokoknya wisata harus tetap dikembangkan dari hasil yang ada," ujar Iwan.

Sebagai gambaran, Total Pendapatan Asli Desa (PADes) Wunut yang diperoleh dari BUMDes Sumber Kamulyan mencapai sekira Rp 3 miliar per tahun.

Sekira Rp 2 milira dialokasikan untuk program sosial dan Rp 1 miliar untuk pengembangan desa.

Sejak beroperasi 2018, BUMDes Sumber Kamulyan berhasil memanfaatkan dana desa awal untuk pengembangan pariwisata.

Pada 2025, omzet BUMDes dari pengelolaan wisata Umbul Pelem dan resto mencapai Rp 7 miliar.

Sebagai besar digunakan untuk membiayai program sosial. Termasuk pembagian THR jelang Lebaran Rp 200 ribu per orang tanpa memandang status sosial atau ekonomi.

Desa Wunut menjadi salah satu desa yang sukses mempertahankan program meski dana desa menurun. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#posyandu #klaten #stunting #bumdes #tulung #Dana Desa #ketahanan pangan