RADARSOLO.COM – Kehadiran ojek online (ojol) di kawasan transportasi publik sering kali memicu gesekan dengan penyedia jasa transportasi konvensional.
Seperti yang pernah terjadi di Stasiun Klaten sebelum akhirnya berakhir damai dengan adanya kesepakatan baru usai dimediasi.
Perwakilan ojek pangkalan (opang) Stasiun Klaten, Edy, 63, mengungkapkan, pihaknya sebenarnya menyadari perubahan zaman yang menuntut kemudahan dalam mengakses moda transportasi. Namun dia menekankan pentingnya etika antarpelaku jasa transportasi di lapangan.
”Ya kalau bagi kami ya biasa saja, ya wajar karena dituntut dengan eranya. Tapi yang kami harapkan itu saling pengertian. Mereka kan pendatang dan kami orang asli di situ (stasiun). Ya, kami minta itu dihargai,” ujar Edy saat ditemui Radarsolo.com, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Edy menjelaskan ruang gerak opang sangat terbatas jika dibandingkan dengan ojol yang bisa menjemput penumpang di mana saja.
”Karena kami itu hanya satu titik saja. Dalam arti satu titik itu kan hanya pengharapannya di stasiun saja. Kalau online itu kan luas. Di mana saja seluruh Indonesia bisa,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan beralih menjadi mitra ojek online, Edy mengaku secara jujur hambatan utama adalah pengoperasian perangkat ponsel pintar (smartphone).
Di usianya yang sudah memasuki kepala enam, ia merasa sulit untuk beradaptasi dengan aplikasi.
”Saya menyadari dengan era saat ini, kalau saya sudah tidak bisa untuk mengikuti seperti itu (pengoperasian smartphone). Memang saya sudah sudah uzur. Saya tidak mampu untuk menjalankan,” ujarnya.
Bahkan, meski tawaran untuk bergabung ke platform digital sering kali muncul, Edy tetap memilih bertahan jadi pengemudi ojek pangkalan.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengungkapkan, opang sebenarnya pernah ditawari untuk bergabung menjadi pengemudi ojol, tetapi tidak mau gabung.
Baca Juga: PT MMS Gugat Pemkab Klaten atas Pengambilalihan Sepihak Pengelolaan Parkir Klatos
”Pesan untuk opang dan ojol tentu taati kesepakatan yang sudah diadakan, kemudian jalankan dengan sebaik-baiknya. Harapan kami ke depan nanti secara berkala, apakah berapa bulan sekali ada forum untuk duduk bersama sehingga silaturahminya terjaga. Kemudian mereka semakin akrab,” ujar Hamenang. (ren/adi)
Editor : Adi Pras