Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Titik Tiwuk, Merawat Pasien Terbuang dengan Ketulusan Hati, Wakafkan Hidup untuk Kaum Duafa

Angga Purenda • Selasa, 3 Februari 2026 | 18:53 WIB

Titik Tiwuk gigih merawat lansia yang terlantar. (Angga Purenda/Radar Solo)
Titik Tiwuk gigih merawat lansia yang terlantar. (Angga Purenda/Radar Solo)
 

RADARSOLO.COM - Di sebuah sudut Desa Jungkare, Karanganom, Klaten, sebuah rumah sederhana berdiri bukan sekadar sebagai tempat berteduh. Bagi mereka yang tak lagi memiliki sandaran, rumah itu adalah sebuah "dermaga" kasih sayang. Di sanalah Titik Budi Rahayu, 48, atau yang akrab disapa Titik Tiwuk, menghabiskan harinya untuk memeluk mereka yang terlupakan oleh dunia.

Tanpa balutan seragam medis maupun gaji bulanan, ibu rumah tangga ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat kaum papa. Mulai dari penderita gangguan jiwa (ODGJ), penyintas stroke, hingga pasien kanker dengan kondisi memprihatinkan, semua dirawatnya dengan tangan dingin dan ketulusan yang melampaui logika.

Pilihan hidup Titik yang tak lazim ini tidak muncul secara tiba-tiba. Akar pengabdiannya tertanam kuat dari pengalaman selama 10 tahun merawat kedua orang tuanya yang sakit-sakitan, serta kakaknya yang berjuang melawan kanker payudara.

Saat mereka satu per satu berpulang, Titik justru merasa hampa. Ia kehilangan rutinitas merawat yang selama ini mengisi hari-harinya.

"Setelah mereka tiada, saya justru merindukan momen memandikan, menyuapi, dan mendorong kursi roda. Kenikmatan itu tidak harus selalu berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan," tutur Titik saat ditemui di kediamannya.

Rasa rindu itulah yang membuatnya membuka pintu rumah lebar-lebar. Ia bahkan sempat mengumumkan di media sosial bahwa dirinya bersedia merawat siapa pun yang telantar secara cuma-cuma.

Sejak 2019, kiprahnya meluas sebagai relawan mandiri. Titik tidak hanya menjadi perawat, tetapi juga jembatan bagi warga miskin untuk mengakses bantuan. Ia menyusun proposal dengan data akurat agar lembaga-lembaga sosial bisa menyalurkan bantuan kepada mereka yang sering kali tak terjangkau oleh pemerintah.

Mendedikasikan diri sepenuhnya, Titik sering terjaga 24 jam. Ia tak segan menjemput pasien di tengah malam, memacu sepeda motor atau ambulans menuju Solo dan Jogja, hingga menginap berhari-hari di rumah sakit untuk menemani mereka yang sebatang kara.

Saat ini, ada empat pasien dengan kondisi berat yang menetap di rumahnya. Salah satunya adalah penderita kanker serviks yang sempat ditolak berbagai pihak karena aroma luka yang menyengat. "Pasien yang dibawa ke sini adalah mereka yang sudah 'terbuang'. Pasien yang orang lain sudah tidak sanggup merawatnya," ucapnya getir.

Tantangan fisik seperti merawat luka penuh belatung tak membuatnya surut. Baginya, setiap nyawa memiliki hak untuk hidup dengan layak. Semangat ini didukung penuh oleh suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kandang ayam.

Titik selalu teringat pesan suaminya yang menjadi pilar kekuatannya: "Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Siapa pun yang ditakdirkan datang kepada kita adalah tugas yang harus kita selesaikan."

Mengenai biaya susu dan popok yang menguras kantong, Titik tak pernah menghitungnya. Ia percaya pada pintu rezeki yang selalu terbuka melalui uluran tangan para donatur dan dokter yang bersimpati pada perjuangannya.

Menatap masa depan, Titik memendam mimpi besar. Ia ingin mendirikan rumah singgah dan panti mandiri di Klaten, mengingat minimnya fasilitas bagi pasien telantar yang membutuhkan perawatan total (bedrest).

"Saya sangat mendambakan punya panti mandiri di luar pemerintah dan rumah singgah. Ini mimpi saya sejak lima tahun lalu," pungkasnya dengan mata berbinar penuh harap.

Di Desa Jungkare, Titik Tiwuk terus membuktikan bahwa pahlawan sejati sering kali tidak memakai jubah, melainkan memakai daster dan kesabaran tiada batas untuk memanusiakan manusia. (ren/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#gangguan jiwa #kasih sayang #rumah sederhana