RADARSOLO.COM–Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten menggulirkan program Outbreak Response Immunization (ORI) atau vaksinasi campak secara massal dan bertahap.
Langkah taktis yang menyasar 53 ribu balita ini diambil sebagai respons cepat menyusul temuan empat kasus campak di wilayah tersebut.
Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto membeberkan, dari total empat kasus campak yang terdeteksi, dua di antaranya ditemukan di satu wilayah yang sama, yakni di Kecamatan Prambanan. Sementara dua kasus lainnya tersebar di kecamatan yang berbeda.
Baca Juga: Kabar Baik untuk Persis Solo, Muhammad Riyandi Sudah Ikut Berlatih Usai Insiden Mengerikan
"Karena ada dua kasus yang terdeteksi di satu wilayah yang sama, secara medis kondisi ini sudah menunjukkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Langkah tindak lanjut utamanya adalah menggelar ORI yang dilakukan secara terjadwal di masing-masing fasilitas layanan kesehatan," terang Anggit, Jumat (27/3/2026).
Program vaksinasi ini menargetkan anak-anak usia 9 hingga 59 bulan.
Anggit menjelaskan, meski berstatus KLB, pelaksanaan vaksinasi campak tidak dilakukan secara serentak layaknya penanganan polio beberapa waktu lalu.
Melainkan mengalir secara bertahap namun dipastikan menyeluruh.
Dinkes Klaten menargetkan seluruh sasaran dapat tersisir dalam kurun waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Sekaligus menekankan pentingnya kesadaran dan dukungan masyarakat.
Pasalnya, kasus-kasus campak yang ditemukan rata-rata memiliki latar belakang riwayat imunisasi yang tidak lengkap, atau bahkan tidak pernah divaksin sama sekali.
"Vaksin ini sangat aman, kami ambil langsung distribusinya dari provinsi. Harapannya, herd immunity (kekebalan kelompok) bisa kembali terbentuk sehingga kasus campak yang sempat nihil selama beberapa tahun di Klaten tidak muncul lagi," tegasnya.
Di tingkat lapangan, petugas kesehatan menerapkan prosedur yang sangat teliti. Bidan Desa Ngering dari Puskesmas Jogonalan 1, Exga Deztia, menjelaskan beberapa Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dijalankan:
-
Screening Ketat: Imunisasi akan ditunda jika anak sedang dalam kondisi demam atau sakit berat. Namun, jika hanya batuk, pilek, atau alergi biasa, vaksinasi tetap bisa dilakukan.
-
Sistem Sweeping (Jemput Bola): Petugas proaktif mendatangi rumah warga sasaran yang kebetulan belum hadir ke posyandu.
-
Edukasi dan Antisipasi: Petugas menenangkan orang tua terkait efek samping yang sangat minim (hanya nyeri di lokasi suntikan atau demam ringan), serta langsung membekali mereka dengan obat parasetamol.
Baca Juga: Sarat Makna Ngaku Lepat, Kirab Bakdo Kupat di Delanggu Klaten Perkuat Kerukunan Warga Agraris
Langkah antisipatif Dinkes ini disambut baik oleh masyarakat, meski rasa waswas sempat menyelimuti.
Nita (30), warga Desa Ngering, mengaku langsung bergegas membawa putrinya yang berusia 3 tahun 3 bulan, ke lokasi vaksinasi setelah mendengar kabar penyebaran campak tersebut.
"Sempat khawatir karena beritanya campak ini sangat cepat menular ke anak-anak. Makanya hari ini saya langsung bawa anak saya untuk ikut suntik ORI. Harapannya supaya daya tahan tubuhnya lebih kuat dan tidak gampang terserang penyakit," syukurnya usai mendampingi sang putri. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono