Kondisi ruang kelas 2 SD Negeri 2 Sribit, Delanggu, Klaten yang atapnya ambruk pada Kamis (2/4/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)RADARSOLO.COM - Atap ruang Kelas 2 SD Negeri (SDN) 2 Sribit, Delanggu, Klaten ambruk, Kamis (2/4/2026) siang.
Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, jam belajar mengajar bagi puluhan siswa terpaksa harus disesuaikan mulai pekan depan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun radarsolo.jawapos.com, robohnya atap kelas 2 SD Negeri 2 Sribit terjadi sekitar pukul 12.20, sesaat setelah para siswa menyelesaikan kegiatan belajar dan pulang.
Baca Juga: Polisi Ungkap Fakta Baru Kasus Mayat Bayi yang Dikubur Separo Badan di Cepogo Boyolali
Kepala SD Negeri 2 Sribit Sri Rejeki menceritakan, saat kejadian, dirinya bersama para guru sedang berada di kantor untuk berkoordinasi pascarapat dinas.
Suasana sekolah yang tenang tiba-tiba pecah oleh suara retakan kayu.
"Tiba-tiba terdengar suara krek krek krek. Kami tidak menyangka bakal roboh, tahu-tahu sudah brek," ujar Sri Rejeki ditemui di lokasi, Jumat (3/4/2026).
Berdasarkan pemeriksaan awal, penyebab ambruknya bangunan diduga kuat karena kondisi material kayu pada kuda-kuda atap yang sudah rapuh termakan rayap.
Kali terakhir, ruang kelas tersebut menjalani rehabilitasi penggantian atap pada tahun 2005.
Sri menjelaskan, meskipun beberapa hari terakhir hujan lebat, cuaca saat kejadian sebenarnya sedang cerah.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Km 478 Tol Semarang-Solo, 1 Sopir Meninggal di Lokasi Kejadian
Hujan baru turun sangat deras sekitar satu jam setelah atap tersebut ambruk.
Guru kelas SD Negeri 2 Sribit M. Al-Azhar Kusumajaya sempat mengira suara gemuruh tersebut berasal dari aktivitas kendaraan besar di sekitar sekolah.
Tapi, suara patahannya terdengar semakin keras. Beruntung, saat kejadian, anak-anak sudah pulang karena jam pelajaran usai.
Azhar menambahkan, tidak ada tanda-tanda awal seperti retakan dinding yang terlihat sebelum kejadian.
Atap tersebut langsung patah begitu saja karena tidak kuat menahan beban genteng yang masih tergolong baru.
Terapkan Sistem Kelas Paralel
Menyikapi musibah ini, pihak sekolah memastikan 32 siswa SDN 2 Sribit tetap mendapatkan hak belajarnya mulai pekan depan.
Namun, karena tiga ruangan tidak dapat digunakan, sekolah akan menerapkan sistem kelas paralel atau penggabungan kelas.
Rencana awal untuk menggunakan musala sekolah dibatalkan karena akses menuju lokasi tersebut dianggap berisiko melewati reruntuhan bangunan yang masih labil.
Nantinya, kelas 4 dan 5 digabung sementara, begitu pula dengan kelas 1 dan 2, dengan memanfaatkan ruangan yang masih layak dan aman untuk dipakai.
Baca Juga: Tiga Perkara Perdata Nany Widjaja di PN Surabaya Tetap Berjalan
Polisi Pasang Garis Pengaman
Pusat kerusakan memang berada di ruang kelas 2, namun ambruknya struktur atap tersebut juga merembet dan merusak ruang kelas 1 serta ruang perpustakaan yang berada di sebelahnya.
Hingga Jumat siang, pihak sekolah belum melakukan pembersihan puing-puing karena khawatir akan adanya reruntuhan susulan.
Terlebih lagi, personel Polsek Delanggu telah memasang garis polisi agar warga sekolah tidak mendekati lokasi karena dirasa masih membahayakan.
Pihak sekolah berharap segera mendapatkan perhatian dan tindak lanjut perbaikan dari dinas terkait agar fasilitas pendidikan di Desa Sribit ini dapat kembali berfungsi normal. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono