Kegiatan yang melibatkan ratusan personel gabungan dan warga setempat ini mendapatkan apresiasi khusus dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat.
Baca Juga: Hidupkan Kawasan Bersejarah Keraton Kartasura, Warga Tanam Tujuh Bibit Pohon Langka
Hingga disiarkan secara langsung (live streaming) sebagai percontohan nasional dalam puncak peringatan HKB yang berpusat di Aceh.
Pemilihan Desa Japanan sebagai lokasi simulasi bukan tanpa alasan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Klaten Syahruna menjelaskan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi ancaman banjir yang signifikan akibat perubahan infrastruktur di bagian hulu.
"Beberapa jembatan di bagian atas sudah diperbaharui, seperti Jembatan Modran yang kini menjadi jembatan gantung, serta dibukanya pintu Bendungan Tukuman. Hal ini membuat arus air dari atas menuju bawah menjadi sangat deras,” ujar Syahruna.
Syahruna khawatirkan terjadi penumpukan air di daerah Japanan tersebut.
Maka itu simulasi menjadi penting untuk mengantisipasi jika tanggul jebol atau limpasan air yang bisa datang sewaktu-waktu.
Simulasi kali ini menjadi spesial karena Klaten menerapkan Peraturan Kepala (Perka) BNPB No. 308 Tahun 2024 yang membagi penanganan bencana ke dalam enam klaster utama.
Penerapan sistematis inilah yang membuat Klaten dijadikan role model nasional.
Baca Juga: Aksi Comeback Veda Ega Pratama! Posisi ke Berapa Hasil Race Moto3 Spanyol 2026?
Enam klaster yang dimainkan dalam simulasi meliputi klaster pencarian dan pertolongan: Dikoordinasikan oleh Basarnas dengan melibatkan TNI, Polri dan komunitas relawan untuk evakuasi korban di bantaran sungai.
Kemudian klaster pengungsian dan kemanusiaan yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos dan P3APPKB).
Ada juga klaster logistik yang dikoordinasikan oleh BPBD untuk menjamin ketersediaan pangan dan bantuan.
Lalu klaster kesehatan yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) dengan melibatkan PMI dan tim medis TNI/Polri untuk penanganan luka hingga trauma healing.
Baca Juga: Kuota Haji Sukoharjo 751 Jamaah, 12 Mei Berangkat Ke Tanah Suci, Sebagian Gabung Kloter Sapu Jagat
Ditambah klaster pendidikan untuk menangani keberlangsungan edukasi di masa darurat.
Begitu juga klaster pemulihan yang fokus pada langkah pascabencana.
Meski simulasi berjalan sukses dengan melibatkan perwakilan warga dari tiga desa lainnya di Kecamatan Cawas, pemerintah berharap bencana sesungguhnya tidak terjadi.
“Tapi kesiapsiagaan terus kita tingkatkan, karena beberapa kecamatan di Klaten seperti Gantiwarno, Bayat, Cawas, dan Trucuk masih memiliki kerawanan banjir tinggi dari luapan Sungai Dengkeng,” ujar Syahruna.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Klaten Hamenang Wajnar Ismoyo menegaskan, sepanjang aliran Sungai Dengkeng, Desa Japanan merupakan titik yang secara historis beberapa kali mengalami tanggul jebol.
"Kami mengerahkan seluruh elemen Forkopimda dan stakeholder. Tadi disimulasikan bagaimana Pak Kapolres dan tim gabungan mengevakuasi korban, lalu dibawa ke tempat pengungsian di Balai Desa Japanan untuk cek kesehatan dan logistik," terang Bupati Hamenang.
Baca Juga: Bupati Cup III Klaten: Ajang Geliat Peternak Muda di Kontes Kambing Kaligesing dan Domba Lokal
Sementara itu, tepat pukul 10.00 WIB, suasana simulasi dipecahkan oleh suara kentongan yang dipukul serentak.
Bupati Hamenang menjelaskan bahwa aksi ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia sebagai simbol peringatan dini.
"Meskipun sekarang zaman teknologi, kentongan tetap menjadi alat komunikasi tradisional yang paling efektif saat bencana terjadi untuk memberitahu warga agar segera bersiap," tambahnya.
Lebih lanjut, Bupati Hamenang mengimbau masyarakat untuk turut serta dalam mitigasi bencana banjir.
Seperti dengan membiasakan sejak dini untuk tidak membuang sampah ke sungai.
“Gerakan bersih-bersih sungai harus rutin dilakukan agar aliran air lancar dan risiko tanggul jebol bisa kita minimalisir," ujarnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono