Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Inovasi Wadah Ramah Lingkungan dari Limbah Onggok Aren Karya Dosen UGM Asal Klaten: Bisa Terurai hanya dalam 60 Hari

Angga Purenda • Selasa, 28 April 2026 | 17:15 WIB
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah mada (UGM) Yogyakarta asal Klaten tunjukkan inovasi produk  arenovom. (Angga Purenda/Radar Solo)
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah mada (UGM) Yogyakarta asal Klaten tunjukkan inovasi produk  arenovom. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Inovasi dari seorang dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta asal Klaten bisa menjadi solusi. 

Terutama dalam mengatasi limbah ampas aren onggok di sentra industri soun Kecamatan Tulung, Klaten.

Limbah yang selama ini mencemari bantaran sungai tersebut bisa disulap ditangan Arita Dewi Nugraheni menjadi berupa produk bernama Arenovom.

Wadah pangan ramah lingkungan yang bisa menggantikan styrofoam.

Baca Juga: Jenazah Ristuti, Warga Wonogiri yang Jadi Korban Kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur Tiba di Rumah Duka, sang Ayah: Sudah 6 Tahun Tak Pulang

Inovasi ini berhasil mengantarkan Arita dan timnya meraih Juara II Lomba Krenova Kabupaten Klaten 2026 kategori masyarakat umum.

Kehadiran arenovom tidak hanya menawarkan produk alternatif yang lebih sehat, tetapi juga mengusung semangat ekonomi sirkular dari desa untuk dunia.

Arita yang merupakan warga Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Klaten ini mengaku ide tersebut muncul setelah ia menyelesaikan studi S3 di Jepang dan kembali ke kampung halamannya.

Sebagai peneliti, ia melihat potensi luar biasa sekaligus masalah besar di Kecamatan Tulung.

Terlebih lagi limbah onggok aren mencapai sekitar 659 ton per tahun.

"Limbah onggok aren itu selama ini belum dimanfaatkan, dibuang begitu saja di pinggir jalan atau sungai. Padahal secara ilmiah, onggok aren mengandung lignin, selulosa dan pati alami yang sangat ideal untuk dibuat biodegradable foam," ujar Arita belum lama ini.

Baca Juga: Keberangkatan Tiga Calon Jamaah Haji Sukoharjo Tertunda, Alami Gangguan Kesehatan Serius

Nama Arenovom sendiri merupakan akronim dari "Aren" dan "Inovasi untuk Biofoam".

Berbeda dengan produk serupa yang biasanya memerlukan tambahan pati dari luar, Arenovom memanfaatkan kandungan pati alami yang masih tersisa dalam ampas aren, sehingga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku.

Keunggulan utama Arenovom terletak pada aspek keberlanjutannya.

Jika styrofoam berbasis minyak bumi membutuhkan waktu lebih dari 500 tahun untuk hancur (itu pun hanya menjadi mikroplastik), Arenovom diklaim mampu terdegradasi total oleh mikroorganisme dalam waktu hanya 60 hari.

Baca Juga: Nasib Persis Solo Tergantung Pada Madura United Usai Dibantai Persija Jakarta: Kurang Degradasi Liga 1 Semakin Menganga, Milo Tegaskan Peluang Masih Terbuka

Dari sisi kesehatan, Arenovom jauh lebih aman untuk kemasan pangan. Mengingat styrofoam mengandung senyawa stirena yang bisa bermigrasi ke pangan dan berdampak buruk bagi kesehatan.

“Proses pembuatannya juga menggunakan CFC yang memicu pemanasan global. Sedangkan Arenovom menggunakan blowing agent alami dari pati aren itu sendiri," tambah Arita.

Secara teknis, Arenovom dibuat menggunakan metode thermo pressing dengan suhu sekitar 120 derajat Celcius selama 15 menit.

Proses tersebut memicu gelatinisasi yang membuat tekstur wadah menjadi ringan menyerupai busa.

Bukan sekadar cetakan serat yang padat dan berat.

Meski saat ini masih dalam skala pilot, potensi ekonominya sangat menjanjikan. Arita menghitung biaya produksi per unit saat ini sekitar Rp6.000.

Baca Juga: Siswa SD Geduruk Stasiun Sukoharjo Kota, Doakan Korban Tragedi KA Argo Bromo Dan KRL Di Bekasi Timur

"Jika dibandingkan dengan harga biofoam di pasaran yang bisa mencapai Rp10 ribu-Rp15 ribu, Arenovom sangat kompetitif. Apalagi bahan bakunya sangat melimpah di Klaten," tambahnya.

Melalui inovasinya itu, Arita berharap pemerintah dan masyarakat lebih sadar bahwa limbah pertanian bukan sekadar sampah, melainkan aset apabila dikelola dengan tepat.

Ia bermimpi produk inovasinya bisa diproduksi secara massal di desa untuk membuka lapangan kerja sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik.

"Harapan saya, produk lokal ini bisa berkontribusi menyelesaikan masalah global terkait sampah plastik. Ini adalah ekonomi sirkular, bahan dari desa, diproduksi di desa dan ketika dibuang pun kembali ke tanah dengan aman," pungkasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#wadah ramah lingkungan #limbah onggok aren #dosen ugm asal klaten #inovasi