RADARSOLO.COM-PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan perluasan akses keuangan mikro yang signifikan di wilayah Kabupaten Klaten melalui jaringan Agen BRILink.
Keberadaan agen perbankan berbasis kemitraan ini terbukti berkontribusi dalam mendongkrak pendapatan non-bunga (fee based income) perbankan serta menggerakkan roda ekonomi di tingkat pedesaan.
Secara nasional, jumlah Agen BRILink hingga akhir Maret 2026 telah menembus angka 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa, atau telah menjangkau lebih dari 80 persen total desa di Indonesia.
Di tingkat lokal, BRI Cabang Klaten mencatatkan kepemilikan sebanyak 1.108 agen BRILink yang berstatus aktif melakukan transaksi di berbagai kecamatan.
Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI Cabang Klaten Sugeng Priyanto menjelaskan bahwa tingginya populasi agen di Klaten berkorelasi langsung dengan banyaknya jaringan kantor unit operasional perbankan di wilayah tersebut.
Klaten saat ini menempati posisi 10 besar cabang dengan agen aktif terbanyak dari total 33 kantor cabang di bawah naungan Regional Office (RO) Yogyakarta per 21 April 2026.
"Klaten kebetulan BRI unitnya banyak, sekitar 32 unit. Semakin banyak unitnya, semakin banyak agen BRILink. Jadi, salah satu dengan jumlah agen BRILink terbanyak se-Kanwil Yogyakarta," kata Sugeng Priyanto, Minggu (24/5/2026).
Pada kurun waktu medio 2022-2023, performa nilai akuntansi transaksi BRILink Klaten bahkan sempat menduduki peringkat kedua se-Regional Office Yogyakarta.
"Dulu ada peringkat, sekitar tahun 2022-2023. Peringkatnya berdasarkan nilai-nilai, ada jumlah agen, fee based income, transaksi, sales volume, dan lain-lain. Itu peringkat dua," tambah Sugeng.
Aktivitas finansial masyarakat Klaten melalui media BRILink menunjukkan tren pertumbuhan yang linier.
Berdasarkan data per 22 April 2026, akumulasi volume transaksi di Klaten telah melampaui angka 1 juta transaksi dengan total perputaran uang (sales volume) mencapai Rp1,13 triliun.
Rekam jejak transaksi tersebut menyumbangkan laba berupa fee based income (FBI) bagi BRI Cabang Klaten sebesar lebih dari Rp1,9 miliar.
Sugeng menjabarkan bahwa perolehan nilai keuntungan tersebut dibagi dengan skema proporsional yang seimbang antara pihak perbankan dengan pihak mitra agen di lapangan.
Baca Juga: BRI dan Unsoed Luncurkan Program Desa BRILiaN 2026 untuk Dorong Transformasi Desa 5.0
"Nanti fee kan pembagiannya fitfy-fifty, buat agen 50 persen dan BRI 50 persen. Kalau BRI dapat Rp1,9 M, agen minimal juga Rp1,9 M juga atau bahkan lebih karena kan dapat dari nasabah secara langsung juga," jelas alumni UNY tersebut.
Peningkatan kesejahteraan finansial secara langsung turut dirasakan oleh para pelaku agen mitra.
Salah seorang agen BRILink di Klaten Bambang Margono mengaku mampu melayani rata-rata 70 transaksi per hari selama lima bulan terakhir.
Pendapatan dari hasil komisi transaksi sejak bergabung pada tahun 2013 kini berhasil diinvestasikan untuk membeli aset toko permanen serta tiga bidang tanah.
"Alhamdulillah punya pemasukan. Toko ini dulu ngontrak, waktu masih pertama jadi agen BRILink. Sekarang toko sudah jadi milik sendiri dan direnovasi seperti sekarang," ungkap Bambang.
"Tiap hari bisa megang uang, bisa beli tanah, sudah tiga kali. Motor yang dulunya tidak baru yang bisa beli baru. Mudah-mudahan ya semakin maju usahanya," lanjutnya.
Dari sudut pandang operasional, fleksibilitas waktu menjadi keunggulan utama layanan keagenan jika dibandingkan dengan sistem pelayanan kantor kas konvensional yang terikat jam kerja resmi.
"Dampaknya sekarang, masyarakat kapanpun dan berapapun bisa. Kalau di bank terbatas waktu, dari jam 8 sampai jam 3 sore," tutur Sugeng.
"Kalau di agen BRILink kan tidak ada batasan waktu. Nasabah mau bangun tidur ke agen BRILink bisa. Kalau dulu harus ke kantor nunggu kantor dulu," imbuhnya.
"Sekarang bangun tidur belum mandi mau langsung transaksi transfer dan tarik tunai bisa, tidak harus ke bank. Mau malam misalkan anaknya ngekos sekolah di luar daerah, butuh uangnya malam bisa setor malam," katanya lagi.
Hal senada disampaikan oleh salah seorang nasabah asal Klaten, Puji Astuti.
Baca Juga: Akad Massal KUR 1.000 UMKM Digelar di Bali, BRI Bersama Pemerintah Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif
Ia memilih bertransaksi di gerai BRILink karena faktor efisiensi waktu dan kedekatan lokasi jarak geografis dari rumah tinggalnya.
"Saya sering ke BRILink karena lebih efisien waktunya sama tidak usah antre. Dekat dari rumah. Aslinya BRI juga dekat, tapi antre," kata Puji.
Ia juga mengharapkan persebaran gerai kemitraan ini ke depan dapat semakin diperluas ke tingkat rukun warga.
"Kalau bisa ya lebih merata. Ini kan tempat ramai ya. Kalau yang tempat, seperti warung-warung sekitar rumah per dukuh atau RW ada. Harapannya lebih banyak lagi," imbuhnya.
Meskipun total entitas pendaftar agen di Klaten secara keseluruhan tercatat mencapai 4.614 data, BRI Cabang Klaten menegaskan bahwa kebijakan strategis perusahaan pada tahun ini tidak lagi menitikberatkan pada penambahan kuantitas, melainkan pada pembinaan kualitas produktivitas transaksi harian para agen.
"Sebenarnya kami tidak mengejar kuantitas, lebih ke kualitas. Kalau jumlah sebenarnya banyak, ada 4.614. Tapi yang aktif transaksi 1.108 tadi," tegas Sugeng.
Melalui restrukturisasi ini, manajemen berupaya mendorong para mitra pasif untuk kembali produktif menghasilkan transaksi. "Sekrawang kami fokus di 2026, dari yang sebelumnya belum aktif transaksi menjadi aktif transaksi. Memperbaiki kualitasnya, bukan hanya menambah jumlah," pungkas Sugeng menutup penjelasan. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono