RADARSOLO.COM-Kemeriahan dan nuansa sakral menyelimuti lapangan di sisi timur kompleks Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten.
Meskipun diguyur hujan deras, ribuan warga tetap antusias memadati lokasi pelaksanaan Festival Candi Kembar ke-7 yang menjadi puncak ritual tradisi merti desa.
Acara tahunan ini sekaligus diintegrasikan sebagai bagian dari rangkaian Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest), menjadikannya magnet budaya berskala internasional.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya berlangsung selama tiga hari, Festival Candi Kembar tahun ini dilaksanakan secara padat selama dua hari, yakni pada Jumat dan Sabtu (22-23/5/2026).
Pada hari pertama, panggung budaya diramaikan oleh pertunjukan seni tari nusantara dan musik etnik nusantara.
Sementara hari kedua menjadi puncak prosesi spiritual dan kebudayaan berupa arak-arakan dan perebutan gunungan hasil bumi.
"Hari terakhir ini kami khususkan untuk merti desa atau rayahan gunungan. Total ada delapan gunungan yang dibawa oleh masing-masing perwakilan RW di Desa Bugisan. Gunungan ini diarak dari Candi Sewu menuju venue utama di timur Candi Plaosan sebagai wujud syukur dan sedekah atas hasil bumi yang kami peroleh selama satu tahun belakangan," ujar Ketua Panitia Festival Candi Kembar ke-7, Irvan Satria Priambodo, Sabtu (23/5/2026)
Delapan gunungan tersebut tersusun rapi dari aneka sayuran, timun, kangkung, ketela, buah-buahan, jajanan pasar tradisional hingga ingkung ayam.
Panitia menerapkan aturan ketat dalam pembuatan gunungan, salah satunya larangan menyisipkan uang tunai demi menjaga ketertiban prosesi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Bakal Manfaatkan Lahan 5,6 Hektare Milik Pemkab di Gergunung Klaten
"Nilai filosofisnya murni untuk bersedekah dan melestarikan kebudayaan leluhur yang kini sudah mulai jarang dilakukan. Kami berharap warga Desa Bugisan ini bisa terus konsisten berkarya dan mendapat dukungan penuh dari Pemkab Klaten demi menjaga kerukunan warga," tambah Irvan.
Keunikan festival budaya di kawasan caga ini turut menarik perhatian tokoh-tokoh nasional.
Salah satunya Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet secara khusus hadir langsung dari Bali untuk menyaksikan jalannya festival bersama perwakilan tokoh lainnya.
Ida Pangelingsir mengungkapkan rasa kekaguman yang luar biasa terhadap semangat persatuan dan nilai historis toleransi yang terpancar dari bumi Klaten.
Menurutnya, kompleks Candi Plaosan dan Candi Sewu merupakan bukti otentik bahwa moderasi beragama di Indonesia sudah mengakar kuat sejak abad ke-9.
"Ternyata kerukunan di Indonesia yang kita jaga, rawat dan pelihara selama ini melalui Pancasila dan NKRI, DNA-nya bermula dari Klaten ini, melalui Festival Candi Kembar," ujarnya.
"Sejak zaman Prambanan, Plaosan, dan Sewu, toleransi beragama sudah dilaksanakan secara nyata. Kami sangat setuju dengan pendapat bahwa embrio kerukunan nasional dan dunia itu ada di sini. Dari Bugisan untuk Indonesia, lalu bergerak untuk dunia," imbuh Ida Pangelingsir.
Dia menekankan bahwa semangat toleransi dari Desa Bugisan ini akan digaungkan ke kancah global melalui ajang Pekan Kerukunan Internasional yang direncanakan berlangsung di Bandung pada Oktober mendatang.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Jaka Purwanto.
Pemkab Klaten secara penuh mendukung keberlangsungan festival tersebut karena dinilai berhasil menyinergikan pelestarian tradisi dengan event olahraga internasional KLIC Fest yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia serta delegasi dari 40 negara.
"Sinergitas antara Festival Candi Kembar dan festival sepeda internasional ini adalah langkah strategis. Melalui integrasi acara ini, para peserta nasional maupun mancanegara dapat melihat langsung bahwa Klaten merupakan pusat embrio kerukunan umat beragama yang nyata," ujar Jaka.
Jaka juga menegaskan komitmen Pemkab Klaten untuk mengemas peninggalan sejarah kerukunan tersebut dengan sentuhan kekinian.
Salah satunya melalui pembentukan Pengurus Kerukunan Umat Beragama (PKUB) di tingkat kecamatan hingga tingkat desa dan kelurahan di seluruh Kabupaten Klaten.
"Selain melestarikan budaya, ajang ini secara nyata menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata dan UMKM," tambahnya.
Festival Candi Kembar ke-7 di Desa Bugisan sukses membuktikan bahwa warisan leluhur, toleransi beragama, dan geliat ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan. Membentuk pilar harmoni masyarakat Klaten yang kokoh.
Baca Juga: Bersihkan Kios Usaha di Donohudan, Warga Ngemplak Boyolali Kaget Temukan Kobra di Tumpukan Kasa
Kendati area lapangan sempat becek dan diguyur hujan lebat, antusiasme warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah tidak surut sedikit pun saat aba-aba perebutan gunungan dimulai.
Salah satu pengunjung asal Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten Sri Mulyani, 41, mengaku sengaja datang mengajak buah hatinya demi berpartisipasi langsung dalam tradisi perebutan gunungan tersebut.
Ia membawa pulang hasil bumi berupa ketela, mentimun dan kangkung dari gunungan.
"Tadi ikut berebut di tengah hujan, lumayan ramai. Hasil bumi yang didapat ini rencananya langsung dimasak untuk hidangan sore hari bersama keluarga di rumah. Harapannya bisa membawa berkah tersendiri," ujar Srimulyani. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono