RADARSOLO.COM-Industri pengecoran logam di Kecamatan Ceper, Klaten, mengalami kondisi sulit dalam menghadapi gempuran ketidakpastian ekonomi global yang berimbas pada lonjakan biaya produksi.
Kondisi tersebut kian diperparah dengan ketidakstabilan pasokan listrik akibat pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PLN dalam dua bulan terakhir.
Tekanan ganda ini memaksa pelaku usaha memutar otak agar dapur produksi tetap mengepul.
Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Dana SAL Rp400 Triliun untuk Himbara, BRI Sebut Siap Optimalkan Likuiditas
Salah satu yang terdampak adalah produsen spesialis deck drain (penutup saluran drainase jembatan) untuk proyek infrastruktur nasional.
Pelaku usaha, Agus Iriawan, 53, mengungkapkan bahwa gejolak ekonomi global dan kenaikan harga energi nasional telah mendongkrak biaya produksi hingga kisaran 10 hingga 15 persen.
"Dampak nasional pasca-kenaikan harga BBM Pertamina sangat terasa. Harga bahan baku naik, biaya ekspedisi naik, bahkan bahan penolong yang harus diimpor dari Rusia semuanya minta naik," ujar Agus saat ditemui di pabriknya di Desa Ngawonggo, Ceper, Klaten, Senin (29/6/2026).
Sebagai spesialis penutup saluran drainase untuk flyover dan jembatan tol, usahanya memegang peran vital dalam menyuplai proyek strategis nasional (PSN).
Di antaranya adalah proyek Jalan Tol Solo-Jogja dan Tol Jogja-Bawen.
Meski kapasitas produksi saat ini sedikit menurun dibanding masa kejayaan proyek Tol Jakarta-Cikampek yang mencapai 2.000 unit per bulan, pabrik seluas 1 hektare ini masih konsisten memproduksi sekitar 1.500 unit deck drain per bulan. Adapun variasi hingga 30 tipe ukuran.
Baca Juga: Pemkot Siapkan Program Air Gratis untuk Seluruh Rumah Ibadah di Solo Mulai 2027
Untuk menyiasati lonjakan biaya akibat krisis global, Agus melakukan dua hal.
Yakni mengajukan revisi kenaikan harga kontrak sebesar 10-15 persen kepada pihak konsumen maupun kontraktor utama.
Kemudian guna menghindari fluktuasi harga yang menjadi bahan baku utama, Agus selalu melakukan pembelian dalam skala besar.
"Saya selalu stok bahan baku. Beli 100 ton, nanti kalau sisa 50 ton, langsung beli lagi 100 ton. Kalau belinya eceran sedikit-sedikit, pusing menghadapi harga yang fluktuatif," jelas pria yang sudah menggeluti dunia peleburan logam sejak 2012 ini.
Baca Juga: Hari Pertama SPMB Online SMP di Klaten Diwarnai Website Error, Orang Tua pun Cemas
Tantangan tidak berhenti pada bahan baku. Dalam kurun waktu 1-2 bulan terakhir, stabilitas pasokan listrik PLN dinilai mengecewakan. Agus membeberkan bahwa sempat terjadi pemadaman listrik hingga tiga sampai empat kali dalam seminggu di tengah jam produksi. Meski diakui dua minggu terakhir ini situasi mulai mereda.
Bagi industri pengecoran logam yang mempekerjakan sekitar 50-60 warga lokal tersebut, listrik adalah urat nadi pada proses peleburan. Jika listrik tiba-tiba mati saat proses peleburan berjalan, cairan logam rawan membeku di dalam tungku dan memicu kerugian materiil.
Untuk mengantisipasi gagal produksi tersebut, pihaknya terpaksa mengalokasikan anggaran ekstra untuk membeli mesin genset baru berkapasitas 20 kVA. Hal itu menjadikan biaya operasional membengkak untuk pembelian solar
“Jika pemadaman meluas, sebagian karyawan terpaksa kami liburkan. Namun, sektor tungku peleburan tidak boleh mati agar logam tidak membeku,” ucapnya.
Melalui momentum tersebut, para pelaku usaha di sentra industri logam Ceper berharap pemerintah dan BUMN terkait memberikan perhatian konkret, bukan sekadar menuntut kewajiban.
Agus menegaskan bahwa pelaku usaha lokal seperti dirinya selalu berkomitmen dan taat membayar pajak. Terlebih mereka bermitra secara profesional dengan BUMN dalam proyek-proyek negara.
"Harapan kami semoga PLN bisa lancar lagi, tidak ada mati lampu. Kasihan UMKM yang membutuhkan listrik satu hari penuh. Kalau tiba-tiba mati di tengah jalan, produksinya gagal," ujar Agus. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono