Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Inspiratif Dwi Purwani Asal Wonosari Klaten: Lepas dari Kepesertaan PKH Secara Mandiri, Sukses Jadi Penjahit dengan 8 Karyawan

Angga Purenda • Selasa, 30 Juni 2026 | 18:08 WIB
Dwi Purwani asal Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Klaten yang telah graduasi dari Program Keluarga Harapan (PKH). (Angga Purenda/Radar Solo)
Dwi Purwani asal Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Klaten yang telah graduasi dari Program Keluarga Harapan (PKH). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM- Di antara ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang memadati Grha Bung Karno (GBK) Klaten, Selasa (30/6/2026), sosok Dwi Purwani, 52, mencuri perhatian.

Perempuan asal Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Klaten ini diwisuda dalam prosesi graduasi mandiri.

Sebuah pembuktian bahwa dirinya telah bangkit dari garis kemiskinan dan siap berdiri di atas kaki sendiri.

Baca Juga: Solo Punya Etalase Produk Lokal, Dongkrak Omzet UMKM hingga 30 Persen

Keputusan Dwi untuk keluar secara sukarela dari kepesertaan PKH didasari oleh kesadaran.

Ia merasa hidupnya kini sudah jauh lebih baik dan ingin memberikan kesempatan tersebut kepada warga lain yang lebih membutuhkan.

"Alhamdulillah, berkat bantuan dari PKH kehidupan kami jadi lebih baik dan bisa hidup mandiri. Saya memilih graduasi agar bantuan ini bisa bergantian dengan yang lain. Masih banyak yang membutuhkan di luar sana, biar kita bisa sama-sama bangkit," ujar Dwi dengan mata berbinar saat ditemui di GBK.

Sebelum mendapatkan bantuan PKH atau saat pandemi Covid-19, Dwi sebenarnya sudah bekerja sebagai penjahit.

Namun saat itu, usahanya masih sangat kecil, berjalan sendirian dan kondisi ekonominya pas-pasan.

Uang yang dihasilkan seringkali habis hanya untuk mencukupi biaya sekolah anak-anaknya.

Baca Juga: Peminat SPMB 2026 Membeludak, Kursi PAUD Negeri Di Solo Ludes

Terlebih lagi, sang suami bekerja sebagai buruh lepas di gudang susu dengan penghasilan yang tidak menentu.

Selama menjadi kepesertaan PKH, Dwi memanfaatkan bantuan dana pendidikan anak sekolah sebesar Rp 700 ribu untuk meringankan beban keluarga.

Hal ini membuat perputaran uang dari hasil menjahitnya bisa dialokasikan sebagai modal untuk mengembangkan usaha.

Perlahan tapi pasti, roda ekonominya berputar lebih cepat. Kini, usaha jahit rumahan milik Dwi telah berkembang pesat.

Dari yang awalnya menjahit seorang diri, perempuan berusia 52 tahun ini sekarang bertransformasi menjadi seorang juragan lokal yang memiliki delapan orang karyawan.

Baca Juga: Prosedur Ribet, Helpdesk SPMB 2026 Di Solo Panen Keluhan

Produknya pun fokus pada kelestarian budaya, yakni pembuatan pakaian tradisional Jawa seperti beskap, jarik, kemben, hingga pakaian adat dengan sentuhan sulam.

“Dulu pendapatannya hanya Rp 100 ribu-an, sekarang sudah bisa sampai Rp 3 juta,” ujar Dwi.

Kerja keras Dwi tidak sia-sia. Dari hasil jahitan pakaian tradisional tersebut, ia mampu membiayai kelangsungan hidup keluarganya dan menyekolahkan keempat buah hatinya.

"Anak saya ada empat. Alhamdulillah, yang dua sudah selesai sekolah, sekarang tinggal dua anak lagi yang masih sekolah," kata Dwi dengan nada bersyukur.

Melalui momentum wisuda graduasi ini, Dwi Purwani berharap kisahnya bisa memantik optimisme bagi KPM PKH lainnya di Kabupaten Klaten.

Baca Juga: Persebi Boyolali Persiapkan Musim Baru, Status Eks Striker Timnas Indonesia Masih Abu-Abu

Ia membuktikan bahwa bantuan pemerintah jika dikelola dengan tekad yang kuat, bisa menjadi batu loncatan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.

"Harapan saya ke depan, pokoknya hidup bisa menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya untuk keluarga saya sendiri, tetapi juga bisa membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia," ucapnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#dwi purwani #lepas dari kepesertaan pkh #Program Keluarga Harapan #klaten #kemiskinan