Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

35 SMP Negeri di Klaten Kekurangan 1.400 Murid Baru, Disdik Buka Jalur SPMB Offline hingga 11 Juli 2026

Angga Purenda • Minggu, 5 Juli 2026 | 12:54 WIB
Ilustrasi pendaftaran SPMB Online di SMP Negeri 1 Delanggu. (Angga Purenda/Radar Solo)
Ilustrasi pendaftaran SPMB Online di SMP Negeri 1 Delanggu. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) online jenjang SMP tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Klaten ditutup,  Kamis (2/7/2026).

Meski secara umum berjalan lancar, Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten mencatat sebanyak 35 SMP Negeri dari total 65 SMP Negeri di Klaten belum memenuhi kuota daya tampung siswa.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disdik Klaten memberikan kelonggaran dengan mendorong pihak sekolah membuka jalur pendaftaran secara offline hingga menjelang tahun ajaran baru dimulai.

Baca Juga: Penerapan Pembatasan Penggunaan Mobil Dinas di Sukoharjo, Satpol PP dan Inspektorat Belum Temukan Pelanggaran

Yakni hingga Sabtu (11/7/2026), mengingat pada Senin (13/7/2026) sudah memasuki hari pertama ajaran baru 2026/2027.

Ketua Pokja Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Disdik Klaten Bintang Agastya menjelaskan, total kuota murid baru yang disediakan Pemkab Klaten untuk jenjang SMP sebanyak 13.696 kursi yang tersebar di 65 SMP Negeri.

"Dari total kuota tersebut, sebesar 89,50 persen atau 12.258 kursi sudah terisi melalui jalur online. Namun, masih ada sisa 1.438 kursi (10,50 persen) yang kosong tersebar di 35 sekolah," urai Bintang..

Menurut Bintang, jumlah sisa kursi di setiap sekolah sangat bervariasi.

Ada sekolah yang hanya kekurangan sembilan siswa, namun ada pula yang belum terisi hingga 101 kursi.

Ia mencontohkan, SMP Negeri 3 Gantiwarno yang baru terisi 49 siswa dari daya tampung 192 kursi.

Baca Juga: Percikan Api Las Sambar Tangki BBM, Satu Unit Mobil Hangus Terbakar di Karanggede Boyolali

Artinya sekolah setempat kekurangan 143 siswa.

Sedangkan di SMP Negeri 2 Karangdowo sebanyak 101 kursi belum terisi.

Kemudian SMP Negeri 1 Kebonarum tersisa 96 kursi belum terisi.  

Ada juga SMP Negeri 2 Juwiring yang kurang 73 siswa dan SMP Negeri 2 Bayat kekurangan 48 siswa.

Pihak Disdik Klaten telah memetakan beberapa faktor utama mengapa puluhan sekolah tersebut belum memenuhi pagu siswa.

Salah satunya jumlah pendaftar yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Link Video Viral Azka Fadillah Coolmax dan Mukena Putih Coolmax Masih Diburu di TikTok dan X, Benarkah Pemerannya Sama?

Ditambah muncul beberapa sekolah baru di jenjang SMP swasta maupun MTs Negeri yang ikut memecah sebaran siswa.

“Salah dalam pengajuan rombongan belajar (rombel) ke Dapodik pusat. Seperti SMPN 3 Gantiwarno, secara SDM sekolah sebenarnya hanya mampu melayani tiga rombel. Tetapi mereka terlanjur memasang enam rombel, jadi deviasi inilah yang membuat angka kekurangan terlihat membengkak,” ucap Bintangnya.

Sebagai langkah jangka panjang untuk memikat kembali hati masyarakat agar memilih sekolah negeri, Bintang menekankan permintaan kepada dinas terkait pentingnya peningkatan kualitas pelayanan dan hal-hal humanis yang mendasar.

"Evaluasi dari Ibu Kepala Dinas, kita tidak boleh melupakan hal-hal kecil. Contohnya, mulai tahun ajaran baru ini, bapak/ibu guru diminta menyambut siswa di gerbang sekolah setiap pagi. Perlakukan murid seperti anak sendiri," kata Bintang.

Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: Pemain Pinjaman Persis Solo Bertahan di Garudayaksa FC, Winger Persija Jakarta Merapat

Selain itu, dilakukan peningkatan kompetensi guru secara berkala. Termasuk Disdik Klaten juga terus mengoptimalkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk mempercantik fisik bangunan sekolah agar mampu bersaing dengan akselerasi sekolah swasta.

Sementara itu, terkait masih banyaknya SMPN di Klaten yang kekurangan siswa, Kabid Pembinaan SMP Disdik Klaten Guritno menambahkan menyoroti pola pikir masyarakat yang masih berburu sekolah unggulan.

"Ada hampir 200 siswa yang tergeser di menit-menit akhir dari sekolah pilihan utama (unggulan), namun mereka memilih mengunci posisi dan tidak mendaftar ke sekolah negeri lain di jalur online,” ungkap Guritno.

Guritno menegaskan, kualitas pendidikan, sarana prasarana serta distribusi guru di 35 sekolah yang kekurangan kuota tersebut sebenarnya sama rata dengan sekolah yang dicap unggulan oleh masyarakat. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#smp negeri di klaten kekurangan murid baru #kekurangan 1.400 murid baru #spmb offline #calon murid baru