RADARSOLO.COM – Aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat pada Senin (6/7). Hingga pukul 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dua kali awan panas guguran (APG) disertai puluhan guguran lava yang mengarah ke sektor barat daya.
Awan panas guguran pertama terjadi pada pukul 08.28 WIB. Material vulkanik meluncur sejauh sekitar 1.700 meter ke arah hulu Kali Krasak dengan amplitudo maksimum 32,92 mm dan durasi 103,55 detik.
Selang sekira 13 menit kemudian, tepatnya pukul 08.41 WIB, Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran. Kali ini jarak luncurnya mencapai sekitar 2.000 meter ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan amplitudo maksimum 121,54 mm dan durasi 124,88 detik.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan pukul 00.00-12.00 WIB, BPPTKG juga mencatat sebanyak 31 kali gempa guguran dan 11 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Selain itu, teramati delapan kali guguran lava ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter.
Hingga saat ini status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Baca Juga: Kronologi Lengkap Menhut Raja Juli Antonio Terima Amplop Bupati Kuansing, KPK Ungkap Fakta Baru
BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain itu, lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya.
Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi dampak hujan abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
Berdasarkan hasil pemantauan, suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung sehingga masih berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas guguran di dalam kawasan bahaya.
Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi kembali oleh Badan Geologi. (nik)
Editor : Niko auglandy